La Pawawoi Karaeng Sigeri menggantikan saudaranya,
We' Benri Gau, MatinroE ri Bolampare’na
menjadi Mangkau’ di Bone. Waktu itu La Pawawoi Karaeng Sigeri
sebenarnya sudah tua, tetapi karena memiliki hubungan baik dengan
Kompeni Belanda, sehingga dirinya yang ditunjuk untuk menjadi Mangkau’
di Bone. Seperti pada tahun 1859. La Pawawoi Karaeng Sigeri membantu
Kompeni Belanda memerangi Turate dan ketika kembali dari Turate, pada
tahun 1865, maka diangkatlah sebagai
Dulung Ajangale. Karena itulah yang dijanjikan oleh Pembesar Kompeni Belanda kepadanya ketika membantu memerangi Turate.
Keberanian dan kecerdasan La Pawawoi Karaeng Sigeri dalam berperang
menjadi buah tutur sehingga namanya menjadi populer. Ketika saudaranya
We Banri Gau MatinroE ri Bolampare’na menjadi Mangkau’ di Bone, La
Pawawoi Karaeng Sigeri diangkat menjadi
Tomarilaleng di Bone.
Setelah selesai memerangi Turate, karena La Pawawoi dianggap berjasa
dalam membantu Kompeni Belanda, maka dimintalah untuk menjadi
Karaeng di Sigeri.
Ketika Karaeng Bontobonto melakukan perlawanan terhadap Kompeni
Belanda, La Pawawoi Karaeng Sigeri dipanggil kembali oleh Kompeni
Belanda untuk membantu meredakan perlawanan Karaeng Bontobonto tersebut.
Perlawanan Karaeng Bontobonto yang dimulai pada tahun 1868. dan nanti
pada tahun 1877. baru dapat dipadamkan.
Karena Pembesar Kompeni Belanda merasa berutang budi atas bantuan
yang diberikan oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri, maka diberikanlah
penghargan berupa Bintang Emas besar dengan kalung yang dinamakan
De Grote Gouden ster voor traun en verdienste.
Kesepakatan
Hadat Tujuh Bone dengan Kompeni Belanda dan Arumpone untuk mengusir
Karaeng Popo dari Bone. Setelah Karaeng Popo kembali ke Gowa, anaknya yang bernama
We Sutera Arung Apala meninggal dunia pada tahun 1903.
Pada tanggal 16 Februari 1895. terjadi lagi kesepakatan antara Kompeni Belanda dengan Bone untuk
memperbaharui Perjanjian Bungaya.
Dengan demikian, Kompeni Belanda bertambah yakin bahwa persahabatannya
dengan Bone sudah sangat kuat. Akan tetapi setahun setelah terjadinya
kontrak persahabatan itu, Belanda melihat adanya tanda-tanda bahwa
perjanjian yang pernah disepakati bakal diingkari oleh Arumpone.
Pada tanggal 16 Februari 1896 perjanjian itupun dilanggar dan
mulailah berlaku keras terhadap sesamanya Arung dan juga kepada orang
banyak. Tindakan itu, seperti diperanginya
Arung Sengkang dan Arung Peneki, La Oddang Datu Larompong,
dengan alasan bahwa Arung Peneki dan Datu Larompong menghalangi
dagangan garamnya untuk masuk ke Pallime. Bagi Arung Sengkang,
mencampuri perselisihan antara Luwu dengan Enrekang.
Untuk itu Pembesar Kompeni Belanda di Ujungpandang yang bernama
Tuan Krussen memperingatkan, tetapi La Pawawoi Karaeng Sigeri tidak mengindahkannya. Pada tahun 1904 Gubernur Kompeni Belanda meminta
sessung (bea) pada Pelabuhan Ujungpandang dan dihalangi oleh Arumpone. Disamping itu, Kompeni Belanda juga meminta untuk mendirikan
loji
di BajoE dan Pallime, kemudian membayar kepada Arumpone sesuai dengan
permintaannya. Semua itu ditolak oleh Arumpone La Pawawoi Karaeng
Sigeri. Bahkan Arumpone memungut
sessung bagi orang Bone yang ada diluar Bone.
Karena permintaan Kompeni Belanda merasa tidak diindahkan oleh
Arumpone, maka pada tahun 1905 Bone diserang. Penyerangan dipimpin oleh
Kolonel van Loenen dengan persenjataan yang lengkap. Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama putranya
Baso Pagilingi mundur
ke arah Palakka dan selanjutnya ke Pasempe. Sementara tentara Belanda
memburu terus, hingga akhirnya Arumpone dengan laskar serta sejumlah
keluarganya mengungsi ke Lamuru, Citta dan terus ke Pitumpanuwa Wajo.
Adapun Panglima Perang Arumpone , ialah putra sendirinya yang bernama
Abdul Hamid Baso Pagilingi dibantu oleh
Ali
Arung Cenrana, La Massikireng Arung Macege, La Mappasere Dulung
Ajangale, La Nompo Arung Bengo, Sulewatang Sailong, La Page Arung
Labuaja. Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama Baso Pagilingi yang lebih dikenal dengan sebutan
Petta PonggawaE serta sejumlah laskar pemberaninya terakhir berkedudukan di Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja.
Bone diserang oleh tentara Belanda mulai tanggal 30 Juli 1905. dan
Arumpone mengungsi ke Pasempe. Tanggal 2 Agustus 1905 tentara Belanda
menyerbu ke Pasempe, akan tetapi Arumpone dengan laskar dan keluarganya
sudah meninggalkan Pasempe dan mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke
Citta.
Dalam bulan September 1905 Arumpone dengan rombongannya tiba di
Pitumpanuwa Wajo. Tentara Belanda tetap mengikuti jejaknya dan nanti
pada tanggal 18 November 1905 barulah bertemu laskar pemberani Arumpone
dengan tentara Belanda di bawah komando
Kolonel van Loenen.
Pada saat itu, Baso Pagilingi Petta PonggawaE gugur terkena peluru
Belanda, maka Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri memilih untuk menyerah.
Pertimbangannya adalah kondisi laskar yang semakin menurun dan gugurnya
Panglima Perang Bone yang gagah perkasa.
Arumpone ditangkap dan dibawa ke Parepare, selanjutnya naik kapal ke
Ujungpandang. Selanjutnya dari Ujungpandang dibawa ke Bandung.
Sepeninggal La Pawawoi Karaeng Sigeri, pemerintahan di Bone hanya
dilaksanakan oleh Hadat Bone.
Pada tanggal 2 Desember 1905 Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta
menentukan bahwa TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) di Celebes Selatan
disatukan dalam satu pemerintahan yang dinamakan
Afdeling Bone yang pusat pemerintahannya berada di Pompanuwa. Di Pompanuwa inilah berkedudukan
Pembesar Afdeling yang disebut
Asistent Resident.
Afdeling Bone dibagi menjadi lima bahagian, yaitu tiap-tiap bahagian disebut
Onder Afdeling dan dipegang oleh seorang yang disebut
Tuan Petoro. Petoro itu dibagi lagi menjadi ;
Petoro Besar ialah
Asistent Resident,
Petoro Menengah ialah
Controleur dan
Petoro Kecil ialah
Aspirant Controleur.
Ketiga tingkatan itu semua dipegang oleh orang Belanda, sedangkan
tingkat dibawahnya bisa dipegang oleh orang pribumi kalau memiliki
pendidikan yang memadai.
Tingkat yang bisa dipegang oleh orang pribumi seperti Landshap atau
Bestuur Assistent. Dibawanya disebut Kulp Bestuur Assistent yang biasa
dipendekkan menjadi K.B.A.
Adapun bahagian-bahagian Afdeling Bone, adalah ;
- Onder Afdeling Bone Utara, ibu kotanya di Pompanuwa.
- Onder Afdeling Bone Tengah, ibu kotanya di Watampone, diperintah oleh Petoro Tengah yang disebut Controleur.
- Onder Afdeling Bone Selatan, ibu kotanya di Mare diperintah oleh Aspirant Controleur.
- Onder Afdeling Wajo, ibu kotanya Sengkang (sebelum Belanda di Tosora) diperintah oleh Controleur.
- Onder Afdeling Soppeng, ibu kotanya Watassoppeng diperintah oleh Controleur.
Kembali kepada kedatangan Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri di
Pitumpanuwa, karena pada saat itu memang termasuk dibawah kekuasaan
Bone. Disebut
Pitumpanuwa karena ada tujuh wanuwa yang
berada di bawah pengaruh Bone. Ketujuh wanuwa tersebut, adalah; pertama
Kera, kedua Bulete, ketiga Leworeng, keempat Lauwa, kelima Awo, keenam
Tanete, ketujuh Paselloreng.
Setelah Bone kalah yang dalam catatan sejarah disebut Rumpa’na Bone,
barulah diambil oleh Belanda dan diserahkan kepada Wajo. Akan tetapi
hanyalah berbentuk Lili Passeajingeng artinya segala perintah tetap
dikeluarkan oleh Kompeni Belanda. Begitu pula di Bone, sejak ditawannya
La Pawawoi Karaeng Sigeri segala perintah hanya dilakukan oleh Hadat
Bone dibawah kendali Kompeni Belanda.
Di Wajo tetap Arung Matowa Wajo yang menjadi penyambung lidah Kompeni
Belanda, sedang di Soppeng dilakukan oleh Datu Soppeng dan Bone
dilakukan oleh TomarilalengE.
Yang pertama - tama dilakukan oleh Kompeni Belanda setelah Arumpone
diasingkan ke Bandung, adalah mengumpulkan semua sisa-sisa persenjataan
dari laskar Arumpone yang masih tersimpan. Dipungutlah sebbu kati
(persembahan) dari masyarakat sebesar tiga ringgit untuk satu orang.
Pungutan itu adalah pengganti kerugian Belanda selama berperang melawan
Arumpone.
Setelah pungutan yang diberlakukan di wilayah TellumpoccoE selesai,
mulai Belanda membuat jalan raya. Seluruh laki-laki yang mulai dewasa
sampai kepada laki-laki yang berumur 60 tahun diwajibkan bekerja untuk
membuat jalan raya tersebut. Bagi yang tidak mampu untuk bekerja dapat
membayar sebesar tiga ringgit.
Ketika Belanda merasa tenang dan tidak ada lagi persoalan yang berat
dihadapi, maka ibu kota Afdeling Bone dipindahkan dari Pompanuwa ke
Watampone. Assistent Resident Bone berkedudukan di Watampone.
Adapun La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada mulanya diasingkan di
Bandung, akhirnya dipindahkan ke Jakarta. Pada tanggal 11 November 1911
M. La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia di Jakarta, maka
dinamakanlah MatinroE ri Jakarta. Dalam tahun 1976 M. dianugrahi gelar
sebagai Pahlawan Nasional, dan kerangka jenazahnya dipindahkan ke Taman
Makam Pahlawan Kalibata.
Setelah La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia, tidak jelas siapa
sebenarnya anak pattola (putra mahkota) yang bakal menggantikannya
sebagai Mangkau’ di Bone. Baso Pagilingi yang dipersiapkan untuk menjadi
putra mahkota, ternyata gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Awo.
Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi Petta PonggawaE, La Pawawoi Karaeng
Sigeri langsung menaikkan bendera putih sebagai tanda menyerah.
Rupanya La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang bernama
Baso Pagilingi itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya
terhadap Belanda. Sehingga setelah melihat putranya gugur, spontan ia
berucap ; Rumpa’ni Bone, artinya benteng pertahanan Bone telah bobol.
Baso Pagilingi itulah yang dilahirkan dari perkawinannya dengan
isterinya yang bernama We Karibo cucu dari Arung Mangempa di Berru.
Karena hanya itulah isterinya yang dianggap sebagai Arung Makkunrai
(permaisuri) di Bone. Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri menjadi Mangkau’
di Bone, diangkat pulalah putranya Baso Pagilingi Abdul Hamid sebagai
Ponggawa (Panglima Perang).
Baso Pagilingi Abdul Hamid kawin dengan We Cenra Arung Cinnong anak
dari La Mausereng Arung Matuju dengan isterinya We Biba Arung Lanca.
Dari perkawinannya itu, lahirlah La Pabbenteng Arung Macege.
Selanjutnya La Pawawoi Karaeng Sigeri kawin lagi dengan Daeng Tamene,
yang juga cucu dari Arung Mangempa di Berru. Dari perkawinannya itu
lahirlah seorang anak perempuan yang bernama We Tungke Besse Bandong,
karena inilah isteri yang mengikutinya sewaktu diasingkan ke Bandung.
Kemudian We Tungke Besse Bandong kawin dengan La Maddussila Daeng Paraga
anak dari Pangulu JowaE ri Bone saudara MatinroE ri Jakarta dengan
isterinya yang bernama We Saripa.
Ketika La Pabbenteng diangkat menjadi Arumpone, suami Besse Bandong
yang bernama Daeng Paraga diangkat pula menjadi MakkedangE Tana. Karena
MakkedangE Tana meninggal dunia, maka Besse Bandong kawin lagi dengan
sepupu dua kalinya yang bernama La Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang
SombaE ri Gowa, anak dari I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo
dengan isterinya Karaeng Tanatana.
Adapun anak La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan isterinya yang bernama
We Patimah dari Jawa Sunda, ialah La Mappagau. Inilah yang melahirkan La
Makkulawu Sulewatang Pallime. Anak selanjutnya bernama Arung Jaling,
inilah yang kawin dengan Ali Arung Cenrana anak dari La Tepu Arung Kung
dengan isterinya We Butta Arung Kalibbong. Dari perkawinannya itu
lahirlah ; pertama bernama We Manuare, kedua bernama Arase, ketiga
bernama La Sitambolo.
Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung, pemerintahan
di Bone hanya dilaksanakan oleh Hadat Tujuh Bone. Hadat Tujuh Bone lah
yang melakukan pembaharuan Perjanjian Bungaya dengan Kompeni Belanda.
Dengan demikian selama 26 tahun tidak ada Mangkau' di Bone. Setelah
Kompeni Belanda merasa tenang, baru mengangkat salah seorang putra
mahkota untuk menjadi Mangkau' di Bone.
(Sumber :
www.telukbone.org)