:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Minggu, 23 Desember 2012

Nama-nama to manurung


1. Matasilompoe Manurungnge ri Matajang – Bone
2. Simpurusiang - Manurungnge Luwu
3. La Dewata - Manurunge ri Babauwae (sekitar sungai walenae)
4. Manurunge ri Bulu Lowa (Sidenreng, besan 8-9)
5. La Bangenge Manurunge ri Bacukiki (Pare2)
6. We Tipulinge Manurunge ri Akkajang Tompoe Lawarang parang / Manurunge ri Suppa
7. Manurunge ri Akkajang Tompoe ri Lurae Marajae Sawitto (Pinrang)
8. Manurunge Maddeppae ri Awo Perring Sawitto (8-9 suami istri orang tua Addatuang Sawitto 1)
9. La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili (Soppeng riaja)
10. We Temmapuppu Manurunge ri Goarie (Soppeng rilau 10-11 suami istri)
11. Manurunge ri Lamuru (Lamuru Bone)
12. Simpurusiang Manurunge ri Cina (Pammana)
13. Manurung ri Gowa (Gowa)
14. Manurung ri Buatana (Sinjai?)
15. Manurung ri Tanralili (Maros)
16. Manurung ri Toro (Bone istri nomor 1)
17. Manurung ri Mampu (Bone)
18. Manurung ri Gattungeng Cinnong (Bone)
19. La Pariba Tomanurung ri Matajang Matakali (Enrekang)
20. La Taupakka Tomanurung ri Pasang (Enrekang)
21. Tomanurung ri Lembuang (Maiwa)
22. La Macelling Tomanurung ri Kaluppang (Enrekang)
23. Tomanurung ri Palipada (Enrekang)
24. Tomanurung Wellang ri Langi (Enrekang)
25. Manurungnge ri Cempalagiang/awangpone
26. Manurungnge ri Tondong (sinjai)
27. Manurungnge ri Lamatti (sinjai)
28. Pong ri Gadang Manurung ri Mandar
29. MAnurungnge ri Cinna (Bone)
30. Manurungnge ri pattanempunga otting (tambahan dari Andys Ogi)
31. Tumanurung ri arungkeke(wanita),,bernama Tumanurung Toalu' Daeng Taba turun d'daerah arungkeke,,
32. Tumanurung ri Layuk(wanita),,turun d'daerah binamu
33. Tumanurung ri bangkala (wanita) yg bernama banrimanurung...(tambahan dari Ansyari Arafat Thalib)
34. Manurunge ri Masisi
35. Manurunge ri Bukasi
36. La Tappa Uleng Manurunge ri Singaja
37. I Benrigau Manurunge ri Pasokkoleng (nomor 36-37 suami istri)
38. Tomanurung ri Padakkalawa (Besan 36-37)
39. To Manurung Kadokkong I lambeqsusu
40. To manurung Talibanangbulawang
41. To Manurung Simpojalangiq
42. To manurung Ri Wallapana awoe ( Sawitto)
43. To Manurung ri Cempa (Mandar)
44. To Manurung Bongkoungu ri Alitta (Pinrang)


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Sawerigading



Nama Sawerigading, sampai saat ini masih membekas dalam ingatan cultural masyarakat,bukan hanya di Luwu,Sulawesi Selatan,namun juga di berbagai daerah di Nusantara ini bahkan sampai kemanca Negara.sosok lelaki ini dikenal sebagai manusia perkasa keturunan dewa yang memiliki kemampuan yang luar biasa.Ia mengembara keberbagai tempat dan kehadirannya kerap dikaitkan dengan benda atau berdirinya sebuah kerajaan.Namanya termaktup jelas dalam Sureq Galigo.

Meski nama Sawerigading sebagai sosok yang menyejarah sangat dikenal,namun masih banyak yang belum mengetahui nama lain dari tokoh heroik ini.Nama-nama Sawerigading dan artinya ini dijelaskan dalam Sureq Galigo.Pemberian nama /gelar kepada Sawerigading disebabkan kesaktiannya dan kepribadian yang dimilikinya.adapun nama/gelar yang dimilikinya yaitu:

1. Pati Ware pemberian nama pada waktu lahirnya.

2. La Maddukkelleng namanya di Wariwangeng.

3. Sawerigading namannya di Luwu.

4. La Tenritappu namanya di Toddattoja.
5. La Tenriwerru namanya di Peretiwi
6. Langi Paewa namanya di Boroliu
7. Pamadalette namanya di Angkasa
8. Opunna Ware namanya di Watampare
9. To Ampanyompa namanya di Bone.
Arti nama tersebut yakni :
1. Pati ware artinya Walikota
2. La Maddukkelleng artinya Sungguh Mulia.
3.Sawerigading artinya Mengembangkan Kemuliaan.
4.La Tenritappu artinya Mulia Asli.
5.La Tenriwerru artinya Mulia Sempurna.
6.Langi Paewa artinya Maha Perkasa.
7.Pamadalette artinya Mengatasi sesamanya Pahlawan. 9.To Ampanyompa artinya Menundukkan setiap pribadi dalam kebenaran.
Sawerigading adalah seorang Putra Mahkota Kerajaan Luwu yang dilahirkan di Kerajaan Luwu [Kabupaten Dati II Luwu] di salah satu Kampung yang bernama Pensiumuni [Ussu] wilayah Kecamatan Malili yang terletak +_ 170 KM dari Kota Palopo.[Daerah ini sekarang berada dalam wilayah Kabupaten Luwu Timur.Daerah Luwu sejak tahun 2000 telah dimekarkan menjadi 3 Kabupaten dan 1 Kota yakni Luwu,Luwu Utara,Luwu Timur dan Kota Otom Palopo].
Sawerigading terlahir dari seorang Ibu Maddaratakku bernama We Datu Sengngeng [dari Kerajaan Tompo Tikka] dan nama bapaknya ialah Batara Lattu yang merupakan Pajung/Datu yang ke II di Kerajaan Luwu.Sawerigading dilahirkan dalam keadaan kembar.Saudara kembarnya adalah seorang Putri yang diberi nama Etenri Abeng [We Tenri Abeng]
Sawerigading termasuk pemuda yang gagah perkasa dan tangkas.bentuk hidung dan sinar matanya yang menarik,bentuk gigi dan bibirnya yang kemerah-merahan yang sangat mempesona.seluruh pasangan anggota badannya sangat serasi.Begitulah yang diuraikan dalam Buku La Galigo; Mappuji Pujinna Panre Patangnga,mengatakan �Malebbi lingkajo La Tenri Tappu� .Artinya,Mulia asli keseluruhan anggota badan La Tenri Tappu [Sawerigading].
Sawerigading terkenal sebagai orang yang sakti di samping ahli di bidang perang dan pelayaran.Ia seorang kelana/pengembara yang gagah berani dan di segani dimana-mana.Sawerigading termasuk pengembara yang pernah berkelana ke seluruh negeri yang ada di Asia Tenggara dan Timur Jauh. Kesaktian yang dimiliki Sawerigading antara lain,dapat berperang melawan musuhnya di atas angkasa,dapat memindahkan Gunung,dapat menghidupkan kembali pasukannya atau pasukan musuh yang gugur dalam medan peperangan dan juga dapat menjadikan ayam putih menjadi ayam hitam dan lain sebagainya.seperti dalam syair lagu Tari Jaga Sulassana yang mengatakan: Sulassana napabongngo,panre napakawewe,rimannaungenna..yang artinya:Ahli hukum menjadi bodoh,cendekiawan tercengang,perlakuan yang di sertai mauna dari Tuhan [Hidayatu minallah].
Kesaktian dan kemampuan yang dimiliki Sawerigading ini dapat di kategorikan sebagai mu�jizat laksana Nabi.karenanya Sawerigading dapat di kategorikan sebagai Nabi tapi bukan Rasul.benar atau salah kita kembali kepada Tuhan.hal ini dapat dibuktikan ketika Sawerigading berusaha untuk lebih memantapkan /meyakinkan keyakinan-nya serta sumber pemberi kesaktian yang dimilikinya [Prilaku yang luar biasa],maka iapun menghadap kepada ayahnya Batara Lattu.
KETIKA SAWERIGADING MENCARI TUHAN
Dengan kesaktian yang dimilikinya. Sawerigading menanyakan tentang Yang Maha Kuasa Sang Pencipta Alam Semesta.Seketika itu ayahnya,Batara Lattu,menyuruh Sawerigading menanyakan selanjutnya ke ayah Batara Lattu yang bernama Batara Guru [Pajung/Datu I di Kerajaan Luwu] yaitu nenek dari Sawerigading.
Ketika bertemu dengan kakenya,Batara Guru,dan menanyakan tentang Yang Maha Kuasa,iapun lantas menyuruh Sawerigading agar menghadap kepada Patotoe [ayah dari Batara Guru] untuk menanyakan hal tersebut.Dengan kesaktian yang dimilikinya,Sawerigading pun berangkat ke Botting Langi [Duania Atas],menghadap Patotoe untuk menanyakan mengenai Yang Maha Kuasa.Namun,Patotoe menyuru cucunya Sawerigading naik lebihlanjut ke atas untuk menghadap kepada Dewata Matenru Alameng Massulengka untuk menanyakan hal tersebut.Pada akhirnya pula Dewata Matenru Alameng Massulengka memberitahukan kepada cucunya Sawerigading bahwa sebenarnya bukanlah saya Yang Maha Kuasa tetapi Tuhan Semesta Alam. Dikatakan dalam bahasa Galigo dengan sebutan Puang Palanro,Datu sanra Langi yang berarti Tuhan Pencipta,menguasai seluruh Alam Semesta.untuk mendapatkan petunjuk mengenai Puang Palanro Datu Sanra Langi,Sawerigading pun dituntun oleh Dewata Matenru Alameng Massulengka untuk melakukan Munajat. Dalam bahasa Luwu/Galigo disebut Mappinangrakka yang berarti Tafakkur/Berserah diri lahir dan batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.. Cara ini dilakukan dengan duduk Tarabu,melipat kedua kaki sambil memejamkan kedua mata.Berdasarkan petunjuk yang diberiakn oleh Datuknya / Datu Dewata Mattenru Alameng Massulengka,Sawerigading pun lantas melakukan proses Munajat untuk Mappinangrakka..Sesaat kemudian Sawerigading berada dalam ketidaksadaran diri,hilang diri dalam suasana Masiawallah yakni dalam wujud Allah semata-mata justru oleh karena telah beralih perasaan batin terhadap suatu keadaan yang tidak bersisi,tidak lagi kanan dan kiri,tidak lagi muka dan belakang,tidak atas dan bawah serta pada ruang yang tidak berbatas,tidak bertepi justru dimana pikiran hilang dayanya.Dia telah mencapai martabat Waliullah atas pertolongan Allah.Keadaan inilah yang disitir oleh syair dalam bahasa Luwu sebagai berikut:
Narekko maddiminni atae ripuanna
Maddimittoni puangnge ri atanna
Naripassampukini sampu apuannge
Nari pallingkajo lingkajo apuangeng
Artinya:
Bila hamba telah cinta Kepada Tuhannya,Maka Tuhan Cinta juga kapada Hambanya sehingga hamba diliputi dan dianugrahi rahmat Kekuatan.Dengan khasiat Munaja /Mappinagrakka tersebut Sawerigading semakin menunjukkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Sawerigading pun senantiasa mengucapokan doa:
Ulawengnga ri Nabie
Salakawa ri Malaikae
Intangnga Ri Allataalah
Artinya:
Ya Tuhanku berikanlah nilai Emas atas Nabi,dan Perak atas Malaikat,Serta nilai Intan atas Allah SWT.
Sawerigading memandang Nabi laksana Emas,dalam arti memiliki nilai dan Kemuliaan.Malaikat dipandangnya laksana Perak dalam arti putih dan bersih mengkilat dan menarik.Seterusnya keberadaan Allah SWT,dipandangnya sebagai Intan yang berarti Putih bersih lahir dan batin yang memiliki Sinar / Cahaya untuk suasana yang gelap gulita.
Pencapaian yang dialami oleh Sawerigading terhadap KeEsaan Tuhan membuat Datu Dewata Mattenru Alameng Massulengka pun bertanya :
Apakah engkau telah melihat
Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mulia
Sungguh dia Sang Pencipta yang tidak
Ada Serikat baginya
Jawab Sawerigading:
Jikalau ditanyakan,Tuhan Yang Maha Kuasa
Tidak ada Duanya yang Mencipta,
Nanti manusia itu telah mati,
Tenggelam seperti Air/hancur lebur
Baru akan melihat Tuhan
Secara syariat, kalimat tersebut dapat diterjemahkan bahwa;Untuk melihat Tuhan terlebih dahulu harus melalui prosesmati.Melalui mati baru akan bertemu dengan Syurga.Sedangkan bila dikaji secara mendalam menurut Ilmu Tasauf,maka kalimat tersebut dapat dipahami maknanya bahwa;Mati/fana�hilang diri[insun] lenyap dalam Tuhan baru bertemu dengan penyaksian suci murni tiada taranya dan sesamanya..Berdasarkan pengertian/pemaknaan inilah yang dicapai oleh Sawerigading.Akan tetapi pengertian ini tergantung tingkat Ilmu Pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Ada empat tingkatan pengetahuan yaitu:
1.Tingkatan pengetahuan Ilmu Yakin.pada tingkatan ini,manusia dapat memahami/menerima sesuatu meskipun ia belum pernah melihat atau merasakan sesuatu tersebut.sebagai contoh tingkat Ilmu Yakin; Apabila seseorang mendengarkan/memperoleh Informasi bahwa di Masjidil Haram Mekkah terletak Baitullah yang merupakan tempat Ibadah bagi ummat Islam,maka penyampaian/Informasi itu dapat ia yakini kebenarannya sekalipun ia belum pernah melihat langsung.
2.Tingkat Pengetahuan Ainul Yakin.Tingkat Ainul Yakin;Yaitu sudah pernah melihat Baitullah namun bersifat sambil berlalu saja.
3.Tingkatan Pengetahuan Haqqul Yakin.Tingkat Haqqul Yakin;yaitu disamping sudah melihat,juga diperhatikan serta mengetahui bentuk,warna,ukuran Tinggi,panjang dan lebar [bertawaf].
4.Tingkat Pengetahuan Kamalul Yakin. Tingkat Kamalul Yakin;Adalah tingkat yang sudah mencapai kesempurnaan yaitu disamping sudah melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri,juga telah pernah merabah dan mencium dan merasakan �HAJARATUL ASWAD� yang ditancapkan pada Baitullah dimana batu tersebut berasal dari Syurga yang dapat menjadi saksi kelak di hari kemudian bagi ummat yang telah pernah Menziarahi,baik yang langsung maupun dengan isyarat melalui tangannya.
SAWERIGADING MENCARI CINTA
Dalam kitab Galigo bahwa pengembaraan Sawerigading kerap mengguanakan perahu [Wakkang].oleh masyaraka,keberadaan perahu Sawerigading tersebut hingga sekarang masih ada dan terdapat di hulu sungai Malili dan Hulu sungai Masamba.Meski demikian perahu ini sudah menjelma menjadi Batu,tetapi wujudnya masih menggambarkan bentuk perahu.Ketika Sawerigading hendak menuju ke Negeri Cina,Sawerigading mulai berlayar dari Kecamatan Malili melalui Teluk Bone sampai di Pulau Selayar dan mengganti perahunya disana.
Konon bekas perahu Sawerigading itu ditinggalkan di pulau Selayar dan tetap dipelihara baik dan dijadikan barang sakti oleh Masyarakat Pulau selayar dan di pulau Selayar terdapat juga suku Luwu sejak zaman Sawerigading.perjalanannya pun diteruskan ke barat mengarungi Laut Jawa dan singgah di Pulau Bali dan mendapat tantangan yang pertama dalam perjalanannya dan berhasil di kalahkan oleh Sawerigading.Dari peristiwa itulah penamaan Bali diberikan dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Luwu, Bali berarti Lawan. Seterusnya Sawerigading melanjutkan perjalanannya melaluiLautan Tiongkok dan tiba di Benua Cina.
Dalam perjalanan Sawerigading kembali ke tanah kelahirannya banyak menurunkan anak buahnya di daerah Palu Sulawesi Tengah karna daerah tersebut sangat subur yang dialiri sungai yang sangat jernih dan kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke Luwu.Disinilah pertama-tama Sawerigading melihat Etenri Abeng,adik kandung-nya yang memiliki paras wajah yang sangat cantik serta menawan hati dan Sawerigading langsung terpesona sekaligus jatuh cinta dan ingin mempersunting adik kandungnya.
Karena Sawerigading ingin mempersunting adik kandungnya,maka ayah Batara Lattu dan ibunya We Datu Sengngeng merasa susah memecahkan persoalan ini. Maka kedua orang tua Sawerigading memanggil Rajeng Maddopa yang dianggap berpengalaman dan di segani di Negeri Luwu. Namun,Sawerigading yang sudah begitu mendalam cintanya kepada adiknya tidak menghiraukan nasehat Rajeng Maddopa.
Melihat kekerasan pendirian kakanya,Etenri Abeng kemudian memohon kepada ayah serta ibunya untuk mencoba memberi pengertian terhadap kakanya Sawerigading,akan tetapi sebelum Etenri Abeng memberikan petunjuk,ia meminta agar semua sepupu sekalinya sebanyak 40 orang ikut hadir menyaksikan di Istana Luwu.setelah berkumpul,Etenri Abeng keluar dari Guarinya [Kamar] sambil menuju tempat diaman sawerigading duduk dan langsung memberikan peringatan serta petunjuk kapada Sawerigading sebagai berikut:
Sayangilah saya kakak Dukelleng [Sawerigading],Supaya engkau jangan memperhatikan aku,Dan saya tunjukkan seorang kesayangan yang tak ada saingan kecantikannya dimana-mana.
Hanya satu cetakan dari Yang Maha Kuasa,Kami di ciptakan berdua.
Sawerigading menjawab: Dimana ia berada sedangkan ia tidak pernah di sebut-sebut di Luwu.
Kemudian Etenri Abeng menjawab:
Dia berkedudukan di tanah Bugis, Kampung Cina,Binti Lasattungpugi,Yang bernama We Cudai,Alias Daeng Risompa,mempunyai kekuasaan di Daerah Tanete, Bila engkau melihatnya lantas tidak sama kecantikannya dengan saya, kembalilah kemari dan kawinilah saya.
Mendengar pernyataan adiknya, Sawerigading lalu bertanya,� kalau demikian perahu mana yang saya gunakan? �. Maka Etenri Abeng memberikan jawaban dengan petunjuk: Ada kayu di Mangkutu,kayu Betao yang tumbuh sendiri,yang dijadikan tempat agung Ular Sawah menrelli,beserta Lipan bersusu-susun,dan menjadi tempat bersarang berbagai macam burung.
Kayu inilah yang dibuat perahu untuk di pakai berlayar menuju ke tanah Cina untuk memperistri-kan We Cudai.Ketika pohon ini di tebang menimpa gunung dan mengakibatkan gunung tersebut terbelah dua. Dan akhirnya diberi nama Bulu Poloe yang artinya Gunung Patah yang terletak di Wilayah Malili.akan tetapi jika melalui jalur ini harus lebih berhati-hati sebab,konon jalur tersebut di kramatkan oleh sebahagian Masyarakat Luwu.
Dalam pelayarannya mempersunting We Cudai, Sawerigading beberapa kali mendapatkan rintangan/tantangan yang selalu dilaluinya dengan peperangan,ia menghadapi musuh tujuh kali, meski demikian kesemuanya dapat di lumpuhkan/dikalahkan dan musuh yang terakhir ialah Sattia Bonga alias Lompeng Rijawa yang juga bermaksut memperistrikan We Cudai.Sawerigading lalu mengajukan pertanyaan kepada Settia Bonga sebagai berikut:
Apaka masih ada pahlawan saudara yang akan mengadakan perlawanan ?
Jawab Sattia Bonga:
Engkau wahai Tuan laksana angin sedang kami laksana daun Kayu.dimana angin bertiup disitulah kami terdampar. Pengakuan kekalahan Sattia Bonga kepada Sawerigading yang akhirnya Sawerigading memberikan bantuan kepada sattia Bonga untuk mengangkut pasukannya kembali di pangkalannya semula. Setelah semua musuh yang menantang Sawerigading dikalahkan, perjalanan pun diteruskan dan akhirnya tiba dengan selamat di Cina dan kemudian berhasil menikahi We Cudai.
CINRELLANA SAWERIGADING
Cinrellana berasal dari bahasa Luwu yang terdiri dari dua suku kata yakni Cinre dan Lana yang berarti,� Ada dan Tidak ada �. Jadi apabila kata Cinrellana ini ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia adalah kurang lebih artinya adalah sesuatu yang di asingkan. Jadi,misalnya,seseorang yang di asingkan,seakan berada di antara ada dan tidak ada.
Cinrellana adalah peristiwa yang terdiri atas diri Sawerigading bersama istrinya We Cudai setelah tiga tahun lamanya bersama istrinya hidup berkasih sayang di Cina.Ketika rombongan Sawerigading tiba di Luwu mereka disambut dengan meriah dan penuh keakraban oleh Masyarakat Luwu hingga memasuki istana ayahnya [Batara Lattu] dalam keadaan yang aman dan tentram.
Ketika tiba dihadapan Batara Lattu,Sawerigading pun menghaturkan sembah,kemudian Batara Lattu [Pajung Luwu] mengajukan pertanyaan kepada anaknya [Sawerigading] tentang hal sumpah Sawerigading yang tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di tana Luwu [Dalam bahasa Galigo dikatakan Maccucu Piu. Sumpah tersebut memang pernah diucapkan oleh Sawerigading ketika ia harus meninggalkan Tana Luwu,untuk meminang We Cudai Wanita yang di tunjukkan adik kandungnya.
Mendengar pernyataan ayahandanya itu, sawerigading lalu menjawab,�Terserah ayahandah terhadap hamba.Apa kehendak ayah-handa itulah yang terjadi.� Mendengar jawaban anaknya itu,Batara Lattu tidak langsung memberikan keputusan.Ia pun mengambil kesimpulan untuk terlebih dahulu menunggu kedatangan Datu Dewata yang akan berkumpul di Luwu,baik Dewata dari Langit maupun Datu/Dewata dari Boroliu. Para Dewata ini akan berkumpul untuk membicarakan mengenai akan turunnya Al-Qur�an diDunia ini.Pada saat itulah baru akan dibicarakan persoalan Cucu Piu atau sumpah yang sawerigading telah ucapkan.
Setelah berkumpul Datu Dewata di Watang-pare ][Ibu kotra Kerajaan Luwu] akhirnya merekapun mengambil keputusan sebagai berikut:
1.Dunia akan dibersihkan.
2.Pemerintahan di dunia akan diadakan perobahan.
3.Dalam bahasa Galigo dikatakan:
4.Maeloi Ritu Ri Anipperi Engkaukengnge Ri Ale
5.Lino�,sebab Al-Qur�an akan di turunkan yang sudah seribu tahun diciptakan oleh Yang Maha Kuasa Allah SWT.
6.Sawerigading harus menigglkan Tanah Luwu dengan jalan diasingkan ke daerah Datuknya Guru Riselleng di Toddattoja.
Setelah Datu Dewata kembali ke daerahnya masing-masing,Datu Dewata Patotoe kembali ke Werewangeng [Langit] dan Datu Dewata �Guru Riselleng� kembali ke Toddattoja [Boro Liu] sambil menyusul Sawerigading bersama dengan Istrinya dan beberapa orang pengiringnya.
Rombongan ini melalui daerah antara lain,yaitu,Marapetteng,Peretiwi,dan Boro Liu,hingga akhirnya Sawerigading bersama rombongan pun tiba di daerah perasingan yakni Toddattoja.Daerah ini merupakan tempat tinggal Datuknya yakni Guru Riselleng.
Sejak tenggelamnya Sawerigading bersama rombongannya ke Boro Liu itu hingga sekarang keadaan Sawerigading tidak di ketahui.Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal.Pada saat Sawerigading di tempat perasingannya itulah Al-Qu�an baru di Nuzulkan dengan perantara Malikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira {Makkatul Mukarramah].

SUMBER: Buku Karangan KH.Siodja Dg.Mallonjo DI TERBITKAN OLEH PUSTAKA SAWERIGADING PALOPO BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH KOTA PALOPO {Editor Buku Idwar Anwar}Yang berjudul :� CATATAN TENTANG SAWERIGADING,SISTEM PEMERINTAHAN LUWU DAN MASUKNYA ISLAM�.
Dikutip dari:http://www.palopokota.go.id/index.php/animation/perda/pengumuman/perda/?page=artikel&ac=view&id=50&chose=second


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

RUMPUN BUGIS



RUMPUN BUGIS = termasuk dalam rumpun Melayu Muda

Selama ini yang orang tahu dari Sulsel cuma ada empat suku, yaitu makassar, bugis, mandar dan toraja... ternyata masih banyak yang lain...

SUKU BENTONG = Suku Bentong tinggal di perbatasan Kabupaten Maros dan Bone, mereka mendiami daerah Bulo-Bulo, bagian dari wilayah Kecamatan Tenete Riaja. Kabupaten Barru, Propinsi Sulawesi Selatan.
SUKU BUGIS = Suku tersebut berpusat di Sulawesi Selatan. Suku ini mendiami sebelas Kabupaten, yaitu Kab. Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Sidenreng-Rappang, Powelai-Mamasa, Luwu, Pare-pare, Barru, Pangkajene, dan Maros.
SUKU CAMPALAGIAN = Nama lain dari suku ini adalah Tulumpanuae atau Tasing, dan biasa disebut oleh pemerintah suku Mandar. Namun mereka menyebut diri mereka orang Campalagian. Mereka tinggal di sekitar Kabupaten Majene, tepatnya di kota Campalagian dan Kab. Polewali-Mamasa (Polmas) serta di Kabupaten Mamuju sepanjang sungai Mandar.
SUKU DURI = Suku Duri terletak di pedalaman Sulawesi Selatan, mendiami wilayah Kabupaten Enrekang yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kec. Enrekang, Maiwa, Baraka, Anggareja dan Alia, yang berbatasan dengan Tanah Toraja. Mereka menggunakan bahasa dengan dialek khusus yaitu bahasa Duri.
SUKU ENREKANG = Suku Enrekang terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kurang lebih 259 Km dari kota Ujung Pandang .
SUKU KONJO PEGUNUNGAN = Suku ini mendiami hampir seluruh Kabupaten Gowa. Gowa bekas kerajaan yang menjadi obyek wisata, terletak sekitar 30 km dari Ujung Pandang .
SUKU KONJO PESISIR = Suku Konjo tinggal di Kabupaten Bulukumbu, kurang lebih 209 km dari kota Ujung Pandang , Propinsi Sulawesi Selatan. Nama lain suku ini adalah Kajang - merupakan perkampungan tradisional khas suku Konjo.
SUKU LUWU = Suku Luwu tinggal di Kabupaten Luwu dan sekitarnya.

SUKU MAIWA = Suku Maiwa merupakan salah satu suku di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang.
SUKU MAKASAR = Wilayah suku Makasar berada di Kabupaten Takalar Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Maros dan Pakajene. Pada umumnya kehidupan orang Makasar dan orang Bugis berbaur, dengan penduduk terletak di pesisir pantai dan Teluk Bone, serta di sekitar Gunung Lompobatang.
SUKU MAMUJU = Mamuju terletak di tepi pantai timur Sulawesi , terbentang dari arah selatan ke utara. Suku ini dialiri oleh beberapa sungai, seperti Hua, Karamu, Lumu, Budung-Budung.
SUKU MANDAR = Suku Mandar terletak di Kabupaten Majene, Propinsi Sulawesi Selatan.
SUKU TOALA'/PANNEI = Sumpang Bita adalah obyek wisata gua yang terdapat di Kab. Pangkep, Sulsel. Pada dinding gua Sumpang Bita itu terdapat bekas gambar telapak tangan, dan telapak kaki manusia, perahu, rusa dan babi hutan. Mungkin unsur-unsur ini menunjukkan gaya hidup orang Toala/Pannei zaman dulu. Konon sejak 5000 tahun yang lampau merupakan tempat hidup nenek moyang suku Toala/Pannei.
SUKU ULUMANDA = Masyarakat Ulumanda berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Suku ini merupakan salah satu anak suku Bungku.

 PS : - Konon kabarnya Suku Bentong adalah keturunan putra Raja Bone yang kawin dengan putri Raja Ternate.

- Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. (Wikipedia)


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Raja Ali Haji (1803-1892)



Raja Ali Haji adalah pahlawan nasional yang meninggal dan di kuburkan di pulau penyengat, Kepulauan Riau. Ia adalah bangsawan melayu keturunan bugis. Raja Ali Haji adalah seorang cendekiawan, sastrawan, bangsawan. ia melahirkan banyak karya sastra diantaranya yang paling terkenal adalah gurindam dua belas, yaitu sajak yang terdiri 12 pasal tentang berbagai petunjuk dan nasehat kehidupan. Ia juga mengarang buku Kitab Pengetahuan Bahasa, suatu buku yang membahas arti dan makna kata dalam bahasa Melayu. karena itu beliau menciptakan standar bahasa melayu yang pertama karena itu pulalah ia disebut sebagai bapak bahasa melayu.
Karya lainnya adalah buku Tuhfat annafis (pemberian yang berharga) suatu kisah yang memiliki kemiripan dengan kisah sawerigading tetapi dengan nama tokoh dan tempat yang berbeda. Beliau juga mengarang buku tentang politik yang menjelaskan syarat-syarat seorang menajdi pemimpin.
sebagai keturunan bugis ia mengarang buku berjudul Silsilah Melayu Bugis. melalui buku ini beliau menceritakan asal-usul dirinya dan kakek neneknya yang berasal dari tanah bugis.
Ketika Belanda berhasil mengamankan jalur perdagangannya di timur nusantara, wilayah sulawesi tetaplah dibawah kekuasaan putra daerah, Belanda sama sekali tidak memiliki kekuasaan mutlak atas wilayah bugis dan makassar. Namun demikian sejumlah bangsawan yang tidak ingin tinggal di daerah memutuskan untuk mencari tanah perantauan di negeri lain. termasuk Opu Tenriburon dan Dg. Kammisi bersama empat orang anaknya yaitu Daeng Parani, Daeng Celak, Daeng Manambung, dan Daeng Marewah. Mereka kemudian membantu kerajaan Riau Lingga dari ancaman serangan Orang Siak dan Orang Minangkabau.
Dengan bantuan 4 pangeran Bugis inilah kerajaan Riau Lingga bertahan dan sebagai kompensasinya Pangeran Bugis ini memperoleh jabatan sebagai Raja Yang Dipertuan Muda. Raja Yang Dipertuan Muda ini menduduki posisi paling strategis sebab ia adalah kepala pemerintahan yang menentukan jalannya pemerintahan kerajaan Riau Lingga. Daeng Celak adalah Raja Yang Dipertuan Muda I, terus menerus setelah kawin mawin dengan keturunan raja Riau, Lahirlah kemudian Ali Haji yang menjadi Raja Yang Dipertuan Muda IV.
Raja Ali Haji adalah cucu dari Raja Ali Haji Fiisabilillah yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1820-an. Raja Ali Haji adalh putra dari Raja Ahmad yang jug seorang sastrawan dan penulis buku. Bahkan buku-buku yang ditulis oleh Raja Ali Haji sebagian adalah tulisan dari Raja Ahmad yang disempurnakan penulisannya oleh Raja Ali Haji.
Sejarah Riau sebelumnya gelap hingga kemudian para bangsawan Melayu keturunan Bugis ini menuliskan kisah tentang asal usul keturunannya beserta dengan tanggal kejadian yang terjadi saat itu. Tradisi tulis menulis ini dibawa dari tanah asal dimana kerajaan Gowa, teah memiliki tradisi tulis menulis di kalangan baangsawan Istana dengan adanya Lontara Bilang. tradisi tulis menulis ini pulalah yang dibawa ke Bima sehingga Bima punya sejarah raja-raja yang dicatat karena meniru tradisi Lontara Bilang dari Gowa.
Standarisasi bahasa Melayu yang di mulai dengan buku Kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji inilah yang mempersatukan segenap pemuda-pemudi bangsa dari seluruh Nusantara pada tahun 1928 dan menggunakan bahasa Melayu ini sebagai bahasa persatuan dengan menamai nya kembali sebagai bahasa Indonesia.
makassar, 7 Maret 2012
(dari berbagai sumber)
rajaalihaji.com
maccanamalempu.blogspot.com


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

LA PAWAWOI KARAENG SIGERI (1895 – 1905)



La Pawawoi Karaeng Sigeri menggantikan saudaranya, We' Benri Gau, MatinroE ri Bolampare’na menjadi Mangkau’ di Bone. Waktu itu La Pawawoi Karaeng Sigeri sebenarnya sudah tua, tetapi karena memiliki hubungan baik dengan Kompeni Belanda, sehingga dirinya yang ditunjuk untuk menjadi Mangkau’ di Bone. Seperti pada tahun 1859. La Pawawoi Karaeng Sigeri membantu Kompeni Belanda memerangi Turate dan ketika kembali dari Turate, pada tahun 1865, maka diangkatlah sebagai Dulung Ajangale. Karena itulah yang dijanjikan oleh Pembesar Kompeni Belanda kepadanya ketika membantu memerangi Turate.

Keberanian dan kecerdasan La Pawawoi Karaeng Sigeri dalam berperang menjadi buah tutur sehingga namanya menjadi populer. Ketika saudaranya We Banri Gau MatinroE ri Bolampare’na menjadi Mangkau’ di Bone, La Pawawoi Karaeng Sigeri diangkat menjadi Tomarilaleng di Bone.

Setelah selesai memerangi Turate, karena La Pawawoi dianggap berjasa dalam membantu Kompeni Belanda, maka dimintalah untuk menjadi Karaeng di Sigeri. Ketika Karaeng Bontobonto melakukan perlawanan terhadap Kompeni Belanda, La Pawawoi Karaeng Sigeri dipanggil kembali oleh Kompeni Belanda untuk membantu meredakan perlawanan Karaeng Bontobonto tersebut. Perlawanan Karaeng Bontobonto yang dimulai pada tahun 1868. dan nanti pada tahun 1877. baru dapat dipadamkan.

Karena Pembesar Kompeni Belanda merasa berutang budi atas bantuan yang diberikan oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri, maka diberikanlah penghargan berupa Bintang Emas besar dengan kalung yang dinamakan De Grote Gouden ster voor traun en verdienste.

Kesepakatan Hadat Tujuh Bone dengan Kompeni Belanda dan Arumpone untuk mengusir Karaeng Popo dari Bone. Setelah Karaeng Popo kembali ke Gowa, anaknya yang bernama We Sutera Arung Apala meninggal dunia pada tahun 1903.

Pada tanggal 16 Februari 1895. terjadi lagi kesepakatan antara Kompeni Belanda dengan Bone untuk memperbaharui Perjanjian Bungaya. Dengan demikian, Kompeni Belanda bertambah yakin bahwa persahabatannya dengan Bone sudah sangat kuat. Akan tetapi setahun setelah terjadinya kontrak persahabatan itu, Belanda melihat adanya tanda-tanda bahwa perjanjian yang pernah disepakati bakal diingkari oleh Arumpone.

Pada tanggal 16 Februari 1896 perjanjian itupun dilanggar dan mulailah berlaku keras terhadap sesamanya Arung dan juga kepada orang banyak. Tindakan itu, seperti diperanginya Arung Sengkang dan Arung Peneki, La Oddang Datu Larompong, dengan alasan bahwa Arung Peneki dan Datu Larompong menghalangi dagangan garamnya untuk masuk ke Pallime. Bagi Arung Sengkang, mencampuri perselisihan antara Luwu dengan Enrekang.

Untuk itu Pembesar Kompeni Belanda di Ujungpandang yang bernama Tuan Krussen memperingatkan, tetapi La Pawawoi Karaeng Sigeri tidak mengindahkannya. Pada tahun 1904 Gubernur Kompeni Belanda meminta sessung (bea) pada Pelabuhan Ujungpandang dan dihalangi oleh Arumpone. Disamping itu, Kompeni Belanda juga meminta untuk mendirikan loji di BajoE dan Pallime, kemudian membayar kepada Arumpone sesuai dengan permintaannya. Semua itu ditolak oleh Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri. Bahkan Arumpone memungut sessung bagi orang Bone yang ada diluar Bone.

Karena permintaan Kompeni Belanda merasa tidak diindahkan oleh Arumpone, maka pada tahun 1905 Bone diserang. Penyerangan dipimpin oleh Kolonel van Loenen dengan persenjataan yang lengkap. Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama putranya Baso Pagilingi mundur ke arah Palakka dan selanjutnya ke Pasempe. Sementara tentara Belanda memburu terus, hingga akhirnya Arumpone dengan laskar serta sejumlah keluarganya mengungsi ke Lamuru, Citta dan terus ke Pitumpanuwa Wajo.

Adapun Panglima Perang Arumpone , ialah putra sendirinya yang bernama Abdul Hamid Baso Pagilingi dibantu oleh Ali Arung Cenrana, La Massikireng Arung Macege, La Mappasere Dulung Ajangale, La Nompo Arung Bengo, Sulewatang Sailong, La Page Arung Labuaja. Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama Baso Pagilingi yang lebih dikenal dengan sebutan Petta PonggawaE serta sejumlah laskar pemberaninya terakhir berkedudukan di Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja.

Bone diserang oleh tentara Belanda mulai tanggal 30 Juli 1905. dan Arumpone mengungsi ke Pasempe. Tanggal 2 Agustus 1905 tentara Belanda menyerbu ke Pasempe, akan tetapi Arumpone dengan laskar dan keluarganya sudah meninggalkan Pasempe dan mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke Citta.

Dalam bulan September 1905 Arumpone dengan rombongannya tiba di Pitumpanuwa Wajo. Tentara Belanda tetap mengikuti jejaknya dan nanti pada tanggal 18 November 1905 barulah bertemu laskar pemberani Arumpone dengan tentara Belanda di bawah komando Kolonel van Loenen. Pada saat itu, Baso Pagilingi Petta PonggawaE gugur terkena peluru Belanda, maka Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri memilih untuk menyerah. Pertimbangannya adalah kondisi laskar yang semakin menurun dan gugurnya Panglima Perang Bone yang gagah perkasa.

Arumpone ditangkap dan dibawa ke Parepare, selanjutnya naik kapal ke Ujungpandang. Selanjutnya dari Ujungpandang dibawa ke Bandung. Sepeninggal La Pawawoi Karaeng Sigeri, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Hadat Bone.

Pada tanggal 2 Desember 1905 Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta menentukan bahwa TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) di Celebes Selatan disatukan dalam satu pemerintahan yang dinamakan Afdeling Bone yang pusat pemerintahannya berada di Pompanuwa. Di Pompanuwa inilah berkedudukan Pembesar Afdeling yang disebut Asistent Resident.

Afdeling Bone dibagi menjadi lima bahagian, yaitu tiap-tiap bahagian disebut Onder Afdeling dan dipegang oleh seorang yang disebut Tuan Petoro. Petoro itu dibagi lagi menjadi ; Petoro Besar ialah Asistent Resident, Petoro Menengah ialah Controleur dan Petoro Kecil ialah Aspirant Controleur. Ketiga tingkatan itu semua dipegang oleh orang Belanda, sedangkan tingkat dibawahnya bisa dipegang oleh orang pribumi kalau memiliki pendidikan yang memadai.

Tingkat yang bisa dipegang oleh orang pribumi seperti Landshap atau Bestuur Assistent. Dibawanya disebut Kulp Bestuur Assistent yang biasa dipendekkan menjadi K.B.A.

Adapun bahagian-bahagian Afdeling Bone, adalah ;

  • Onder Afdeling Bone Utara, ibu kotanya di Pompanuwa.
  • Onder Afdeling Bone Tengah, ibu kotanya di Watampone, diperintah oleh Petoro Tengah yang disebut Controleur.
  • Onder Afdeling Bone Selatan, ibu kotanya di Mare diperintah oleh Aspirant Controleur.
  • Onder Afdeling Wajo, ibu kotanya Sengkang (sebelum Belanda di Tosora) diperintah oleh Controleur.
  • Onder Afdeling Soppeng, ibu kotanya Watassoppeng diperintah oleh Controleur.

Kembali kepada kedatangan Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri di Pitumpanuwa, karena pada saat itu memang termasuk dibawah kekuasaan Bone. Disebut Pitumpanuwa karena ada tujuh wanuwa yang berada di bawah pengaruh Bone. Ketujuh wanuwa tersebut, adalah; pertama Kera, kedua Bulete, ketiga Leworeng, keempat Lauwa, kelima Awo, keenam Tanete, ketujuh Paselloreng.

Setelah Bone kalah yang dalam catatan sejarah disebut Rumpa’na Bone, barulah diambil oleh Belanda dan diserahkan kepada Wajo. Akan tetapi hanyalah berbentuk Lili Passeajingeng artinya segala perintah tetap dikeluarkan oleh Kompeni Belanda. Begitu pula di Bone, sejak ditawannya La Pawawoi Karaeng Sigeri segala perintah hanya dilakukan oleh Hadat Bone dibawah kendali Kompeni Belanda.

Di Wajo tetap Arung Matowa Wajo yang menjadi penyambung lidah Kompeni Belanda, sedang di Soppeng dilakukan oleh Datu Soppeng dan Bone dilakukan oleh TomarilalengE.

Yang pertama - tama dilakukan oleh Kompeni Belanda setelah Arumpone diasingkan ke Bandung, adalah mengumpulkan semua sisa-sisa persenjataan dari laskar Arumpone yang masih tersimpan. Dipungutlah sebbu kati (persembahan) dari masyarakat sebesar tiga ringgit untuk satu orang. Pungutan itu adalah pengganti kerugian Belanda selama berperang melawan Arumpone.

Setelah pungutan yang diberlakukan di wilayah TellumpoccoE selesai, mulai Belanda membuat jalan raya. Seluruh laki-laki yang mulai dewasa sampai kepada laki-laki yang berumur 60 tahun diwajibkan bekerja untuk membuat jalan raya tersebut. Bagi yang tidak mampu untuk bekerja dapat membayar sebesar tiga ringgit.

Ketika Belanda merasa tenang dan tidak ada lagi persoalan yang berat dihadapi, maka ibu kota Afdeling Bone dipindahkan dari Pompanuwa ke Watampone. Assistent Resident Bone berkedudukan di Watampone.

Adapun La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada mulanya diasingkan di Bandung, akhirnya dipindahkan ke Jakarta. Pada tanggal 11 November 1911 M. La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia di Jakarta, maka dinamakanlah MatinroE ri Jakarta. Dalam tahun 1976 M. dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional, dan kerangka jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Setelah La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia, tidak jelas siapa sebenarnya anak pattola (putra mahkota) yang bakal menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone. Baso Pagilingi yang dipersiapkan untuk menjadi putra mahkota, ternyata gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Awo. Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi Petta PonggawaE, La Pawawoi Karaeng Sigeri langsung menaikkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Rupanya La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang bernama Baso Pagilingi itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya terhadap Belanda. Sehingga setelah melihat putranya gugur, spontan ia berucap ; Rumpa’ni Bone, artinya benteng pertahanan Bone telah bobol.

Baso Pagilingi itulah yang dilahirkan dari perkawinannya dengan isterinya yang bernama We Karibo cucu dari Arung Mangempa di Berru. Karena hanya itulah isterinya yang dianggap sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone. Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri menjadi Mangkau’ di Bone, diangkat pulalah putranya Baso Pagilingi Abdul Hamid sebagai Ponggawa (Panglima Perang).

Baso Pagilingi Abdul Hamid kawin dengan We Cenra Arung Cinnong anak dari La Mausereng Arung Matuju dengan isterinya We Biba Arung Lanca. Dari perkawinannya itu, lahirlah La Pabbenteng Arung Macege.

Selanjutnya La Pawawoi Karaeng Sigeri kawin lagi dengan Daeng Tamene, yang juga cucu dari Arung Mangempa di Berru. Dari perkawinannya itu lahirlah seorang anak perempuan yang bernama We Tungke Besse Bandong, karena inilah isteri yang mengikutinya sewaktu diasingkan ke Bandung. Kemudian We Tungke Besse Bandong kawin dengan La Maddussila Daeng Paraga anak dari Pangulu JowaE ri Bone saudara MatinroE ri Jakarta dengan isterinya yang bernama We Saripa.

Ketika La Pabbenteng diangkat menjadi Arumpone, suami Besse Bandong yang bernama Daeng Paraga diangkat pula menjadi MakkedangE Tana. Karena MakkedangE Tana meninggal dunia, maka Besse Bandong kawin lagi dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang SombaE ri Gowa, anak dari I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo dengan isterinya Karaeng Tanatana.

Adapun anak La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan isterinya yang bernama We Patimah dari Jawa Sunda, ialah La Mappagau. Inilah yang melahirkan La Makkulawu Sulewatang Pallime. Anak selanjutnya bernama Arung Jaling, inilah yang kawin dengan Ali Arung Cenrana anak dari La Tepu Arung Kung dengan isterinya We Butta Arung Kalibbong. Dari perkawinannya itu lahirlah ; pertama bernama We Manuare, kedua bernama Arase, ketiga bernama La Sitambolo.

Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Hadat Tujuh Bone. Hadat Tujuh Bone lah yang melakukan pembaharuan Perjanjian Bungaya dengan Kompeni Belanda. Dengan demikian selama 26 tahun tidak ada Mangkau' di Bone. Setelah Kompeni Belanda merasa tenang, baru mengangkat salah seorang putra mahkota untuk menjadi Mangkau' di Bone.
(Sumber : www.telukbone.org)


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Surat dari seorang Ayah : SALING MEMANUSIAKAN....


Oleh : A. Hasan Machmud

di SEMPUGI 
Surat ini merupakan bagian awal dari surat yang ayah akan kirimkan kepada anakda secara berkelanjutan. Dalam surat berikutnya ayah akan menulis tentang beberapa hal yang mungkin anakda perlukan.
Dalam surat anakda menyatakan keheranan terhadap situasi politik sekarang ini, dimana terjadi pertentangan yang berpanjangan. Mengenai hal itu, anakda tidak perlu merasa heran. Hal itu terjadi disebabkan karena adanya pergeseran nilai dalam masyarakat yang cukup mendasar. Dahulu, penilaian terhadap hal-hal yang dianggap `Baik' identik dengan `Benar'. Tetapi sekarang belum tentu yang dianggap baik itu `Benar'. Kalau dahulu, penilaian terhadap yang `Baik' itu berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang dianut dalam masyarakat, baik menurut norma agama maupun etika dalam masyarakat. Sekarang penilaian kebenaran dianut dalam masyarakat, baik menurut norma agama maupun etika dalam masyarakat. Sekarang, penilaian terhadap `Baik' itu lebih mengarah kepada kepentingan pribadi atau kelompok dan "Pendewaan terhadap benda-benda" yang tambah mengaburnya nilai moral dan kemanusiaan dalam masyarakat sebab bertambah tinggi penilaian terhadap kepentingan pribadi dan benda, maka bertambah rendah penilaian terhadap moral dan kemanusiaan. Tidak heran jika Sheller mengatakan `Masa Besar' adalah kemajuan yang sangat pesat di bidang meterial seperti kemajuan teknologi dan ekonomi yang sangat dimaksudkan dengan `Manusia Kecil' adalah manusia tanpa moral dan rasa kemanusian dalam dirinya.
Sekarang ayah akan mencoba menggambarkan melalui cerita-cerita tentang hakekat saling memanusiakan itu. Untuk itu, ayah akan menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di zaman Nabi Muhammad. Sewaktu Nabi Muhammad saw sedang duduk dengan beberapa orang sahabatnya di dalam sebuah masjid, tiba-tiba Saidina Ali r.a datang, salah seorang sahabat dan juga menantu Nabi Muhammad saw. Saidina Umar yang duduk di samping kanan Nabi Muhammad saw menggeser dari samping Nabi dan memberikan tempatnya kepada Saidina Ali, sesudah Saidina Ali duduk di sampingnya, Baginda menoleh kepada Saidina Umar lalu berkata:  " Hai Umar, hanyalah orang kelebihan kemulian yang dapat memuliakan orang lain " . Ucapan Nabi ini anakku patut kita renungkan secara mendalam. Karena kita berbicara tentang "Kemanusiaan " , mari kita mencoba menempatkan kata " Kemanusiaan" dalam konteks kalimat Nabi diatas tadi sehingga menjadi " Hanyalah orang yang memiliki kelebihan rasa kemanusiaan yang dapat memanusiakan orang lain ". Jadi seseorang harus mampu untuk memanusiakan diri sendiri sendiri dahulu baru memanusiakan orang lain.
Sekarang ayah akan menceritakan bagaimana pengaruh `memanusiakan' dalam menggugah kebersamaan dalam masyarakat. Untuk itu ayah akan menceritakan tentang Birgham Young yang selama hidupnya hanya pernah mengecap pendidikan formal, tidak lebih dari satu hari, tetapi ia mampu menjadi pemimpin orang-orang Mormon yang berhasil dan membawa orang-orang Mormon yang bertabiat kasar dan diburu-buru pada saat itu untuk melintasi padang pasir yang gersang dan panas itu hanya gerobak yang ditarik dengan sapi, kemudian ia bersama rombongannya menetap di tanah yang luas tetapi gersang itu, dimana pada akhirnya Birgham Young mampu menjadikan tanah gersang itu menjadi tanah yang subur dan dapat memakmurkan pengikutnya. Sehingga salah seorang menteri dari kabinet Abraham Lincon menyatakan : Birham Young adalah salah seorang negarawan di abad ini...
Bagaimana kepimpinan Birgham Young sehingga mampu mengubah orang-orang Mormon yang bertabiat kasar dan diburu-buru tersebut menjadi satu kekuatan pembangunan yang dahsyat ??.. Jawabannya cuma satu, iaitu Birgham Young mampu memanusiakan pengikutnya. Kepemimpinan B.Young yang bersikap memanusiakan pengikutnya mampu meningkatkan kepercayaan dan harga diri pengikutnya. Kepimpinannya yang adil menguatkan kedudukannya, karena menyatukan keadilan dan kekuasaan, sebab keadilan tanpa kekuasaan impoten, akan tetapi kekuasaan tanpa keadilan tirani. Birgham Young mampu menciptakan citra yang baik bagi dirinya melalui prilaku dan kepimpinannya. Kepimpinannya menyatu dengan keperibadiannya yang tidak mementingkan diri sendiri dan kelompok tertentu dalam pengikutnya. Mereka merasakan apa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan bersama, sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin. Kepimpinannya merupakan pencerminan dari apa yang dikatakan oleh Mustafa Ghabayani bahwa : " Kepemimpinan bukan didasari  oleh kepentingan peribadi atau kelompok, sebab jika kepentingan seperti itu mendasari tingkah laku dan kepemimpinan seseorang, tidak akan pernah menjadi pemimpin bangsa, hanya akan menjadi pemimpin dirinya atau kelompoknya sahaja....Wassalam.


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Kisah ANDI CAMMI PAHLAWAN DARI SIDRAP



ANDI CAMMI

Sekedar Info :
Di Kabupaten Sidrap terutama di desa Carawali terdapat sebuah monument pahlawan Daerah yang dulu dipimpin oleh Andi Cammi beserta anak buahnya La Magaribi, La Bengga, Andi Nohong dll. Mereka dieksekusi oleh Belanda di lokasi monument itu saat sedang menyusun kekuatan untuk melawan Belanda. Tapi cerita ini sangat sulit saya temukan buku yang mengisahkan perjuangan mereka, bahkan Pemk...

ab. Kabupaten Sidrap pun tidak menerbitkan buku tentang Andi Cammi, kisah mereka hanya pernah saya dengar oleh orang tua dahulu terutama kakek buyut saya yang kebetulan berprofesi sebagai Imam Masjid Carawali dan ia pernah menyimpan naskah tentang kisah Andi Cammi yang pernah dibagikan kepada setiap Kepala Desa dan Imam Mesjid yang dibuat dengan kertas stensilan oleh Depdikbud pada tahun 1980-an dan itu saya masih kecil banget dan belum tahu apa-apa, setelah saya mengorek informasi kepada Kepala Desa mereka tidak tahu kisah sebenarnya tentang Andi Cammi karena Kepala Desanya masih muda, yang tahu kisahnya hanyalah orang-orang tua dahulu seperti kakek buyut saya, tetapi semuanya sudah meninggal dunia dan naskah yang pernah saya baca dan aku lihat waktu kecil itu sudah hilang entah kemana, tetapi saya berhasil menemukan satu buah Al Quran kuno yang ditulis tangan, tetapi saya tidak tahu siapa yang pertama kali menulis Al Quran ini apakah kakek buyut saya atau kakeknya kakek buyut saya, keluarga yang saya tanya tidak ada yang tahu tentang siapa penulis Al Quran tulisan tangan ini. Al Quran ini masih aku simpan baik-baik.
Dan ini ada sedikit informasi tentang kisah Andi Cammi yang berhasil saya wawancarai adalah guru SD Carawali, Sidrap yang juga hanya sedikit informasi yang dia dapat, karena saat kejadian terjadi dia juga belum lahir. Datanya belum lengkap dan akurat, oleh karena itu saya sangat berminat sekali menulis tentang kisah Andi Cammi yang belum pernah di bukukan oleh penerbit mana pun. Apalagi foto saat Andi Cammi masih hidup juga sulit ditemukan.

Kisah Terbununhya A. Cammi Pahlawan asal Kab. Sidrap

Andi Cammi terbunuh oleh tentara Belanda yang bermarkas di Rappang tidak lepas dari adanya pengkhianatan dalam keluarganya sendiri. Konon kabarnya Puang Runa paman A. Cammi sendiri yang memberikan informasi tentang keberadaan Hamidong atau A. Cammi karena balas dendam Puang Runa kepada Hamidong karena ia mengira A. Cammi yang menyebabkan Puang Runa mengalami korban perampokan yang dilakukan oleh Pria bertopeng beberapa hari yang lalu, maka Puang Runa pun memberitahu Belanda bahwa telah terjadi Pertemuan Rahasia A.Cammi dan teman-temanya di desa Carawali, setelah mendapat informasi dari Puang Runa maka datanglah Pasukan Belanda dengan 3 buah Jip dan membrondongkan peluru kearah pertemuan A. Cammi tapi waktu itu A. Cammi hanya tertembak dipaha kirinya dan berusaha bersembunyi didalam lubang disawah.
Belanda waktu itu tidak mengenal wajah A. Cammi, “Mana Hamidong, kamu Hamidong yah?”, kata prajurit Belanda pada Andi Cammi. Awalnya Andi Cammi tidak mengaku bahwa dirinya adalah Hamidong tapi berselang beberapa jam kemudian maka datanglah Puang Runa dan mengatakan kepada Belanda bahwa ini adalah Hamidong. Maka diseret paksalah Hamidong (A. Cammi) kedalam mobil jip Belanda dengan posisi kepala dibawah dibagian mesin mobil belanda, ia pun mendapat siksaan hebat dari Penjajah Belanda yang bermarkas dibekas RSUD Arifin Nu’mang Rappang (Sekarang ini) dan Belanda menghabisinya dengan menembakkan peluru dipelipis kepala Hamidong (A.Cammi) hingga tewas.

PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.

Featured Video

SENARAI TETAMU KEHORMAT MUATURUN MP3 PERCUMA

Followers