:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Minggu, 23 Desember 2012

PENOBATAN ADDATUANG SIDENRENG KE-21



Warga kabupaten Sidenreng-Rappang patut berbangga. Setelah sekitar 85 tahun, akhirnya Sidenreng kembali menobatkan Addatuang yang baru. Yang Mulia Paduka (YMP) Haji Andi Patiroi Pawiccangi terpilih menjadi Addatuang Sidenreng ke-21. Beliau adalah cucu langsung dari Addatuang Sidenreng terakhir, yakni Petta La Cibu.

Acara penobatan ini berlangsung khidmat. Diadakan di Soraja Massepe pada hari Kamis, 22 Desember 2012. Prof. A. Syarif To Appatunru Sultan Abd Munir Kuningin Bone selaku pemangku adat Sulawesi Selatan memimpin acara penobatan ini. Pada acara ini, hadir berbagai undangan dari beberapa Sultan dan Raja se-Nusantara dan se-Sulawesi Selatan.

Pelantikan Addatuang Sidenreng ini dimaksudkan untuk melanjutkan amanah selaku Addatuang berikut perangkat adat yang ada.

Dewakara (Dewan Ketahanan Adat dan Keraton Nusantara) bertindak selaku penyelenggara kegiatan ini. Andi Sukri Baharman sebagai ketua panitia.

Ada dua pendapat tentang asal mula Sidenreng. Pendapat pertama mengatakan bahwa adik Datu Sangalla yang meninggalkan Sangalla mengikuti aliran sungai. Mereka saling berpegangan tangan (sirenreng) menuju pesisir danau yang kelak disebut Sidenreng. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa, kedatangan Tomanurung yakni Manurungnge ri Bulu Lowa yang diangkat oleh masyarakat setempat sebagai Addaowang. Addaowang berarti tempat berpeluk. Dikemudian hari, gelar Addaowang sebagai pemimpin tertinggi di Sidenreng berubah menjadi Addatuang.

Di masa pemerintahan kolonial Belanda, kerajaan Sidenreng digabung dengan kerajaan Rappang menjadi Swapraja. Hingga dimasa kemerdekaan, terbentuk kabupaten Sidenreng-Rappang.

Diharapkan dengan terbentuknya kelembagaan adat diberbagai daerah, mampu menjadi benteng pelestari kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagaimana amanah UUD 1945.

PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

FENOMENA NASIONALSIME (Indonesia)


Oleh : Soefirman

Nasionalisme per defenisi seting kali dikonotasikan dengan aspek-aspek emosional, kolektif, dan idola serta sarat memori historis. Nasionalisme selalu melibatkan dimensi emsosi atau rasa, seperti seperasaan, sepenanggungan, seperantauan, dan senasib. Faktor memori historis adalah faktor kecendrungan yang dibangun untuk menumbuhkan perasaan "bersatu" dalam sebuah konsep kebangsaan tertentu.

Menurut Ernest Renan, seorang teoritikus Prancis, dalam esai terkenalnya "What is a Nation" menyebutkan bahwa nasion adalah jiwa dan prinsip spritual yang menjadi ikatan bersama, baik dalam pengorbanan (sacrifice) maupun dalam kebersamaan (solidarity) . sementara menurut Benedict Anderson (2002), nasiona didefenisikan sebagai “sebuah komunitas politik terbayang” (animagined political community). Nasion pada awalnya lebih dalam bentuk imajinasi pikiran belaka. Namun, nasiona kemiudian terbanyangkan sebagai suatu komunitas, dan diterima sebagai persahabatan yang kuat dan dalam (deep horizontal comradeship) (Dekade, 2000).

Dalam semangat itulah , nasionalisme Indoensia muncul sebagai satu ikatan bersama melawan kolonialisme. Di sini nation dan nasionalisme dipakai sebagai perasaan bersama oleh penindasan kolonialisme, dan oleh karena itu, dipakai sebagai senjata ampuh untuk membangun ikatan dan solidaritas kebersamaan melawan kolonialisme.

Tidak dapat disangkal bahwa nasionalsime Indonesia, seperti juga nasionalisme Norwegia memisahkan diri dari Kerjaan Denmark dan menjadi Negara merdeka tahun 1905, yang menurut Thomas Hylland Eriksen, didahului dengan “penciptaan” budaya dan bahasa Norwegia yang berbeda dari Denmark. Untuk itu, para pencetus kemerdekaan Norwegia mengambil budaya dan bahasa (dialek) para petani di tengah pegunungan Norwegia sebagai budaya dan bahasa mereka. Ini untuk mempertegas identitas mereka melawan penggunaan bahasa Denmark di kota Norwegia.

Demikian pula para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia, melalui Budi Utomo dan kemudian Sumpah Pemuda, telah menciptakan nasionalisme Indoensia yang lintas etnis, dengan symbol bendera Merah Putih dan bahasa Indonesia.

Rakyat Indonesia seperti juga Amerika Serikat, adalah masyarkat yang amat pluralistis, baik dari segi etnisitas, bahasa ib, maupun adat budayanya. Tetapi berbeda dari masyarakat Amerika Serikat yang sebagian besar (kecuali native American, Indian) adalah pendatang, yang dengan kemauan sendiri mendatangi benua tersebut, suku-suku bangsa Indonesia adalah penduduk pribumi. Mereka sudah beribu tahun menghuni wilayah tertentu yang kemudian menjadi Republik Indonesia.

Perasaan menjadi pemilik sah dari suatu wilayah lebih kental di antara kelompok etnis Indonesia dibandingkan rakyat Amerika Serikat. Maka, sungguh merupakan keberhasilan yang sangat besar dari dari para pendiri Negara ini untuk dapat membuat mereka kini merasa bahwa tanah air kita adalah Indonesia, bukan hanya Jawa, Bali, Sulawesi, Irian, dan sebagainya. Pembentukan rasa nasionalisme Indonesia sebagai Negara kepulaun terbesar di dunia, tentu jauh lebih sulit dibandingkan dengan Norwegia yang negaranya berupa satu daratan tanpa terpisahkan oleh lautan

R e n u n g a n
Setidaknya dengan cara memahami bangsa kita sebagai bangsa yang besar itu dikarenakan perbedaan dan naluri nasionalisme yang tinggi untuk menyatu dalam satu wilayah yang kita sebut Indonesia, bukan dikarenakan perbedaan itu justru kita mengkultuskan arogansi dan keunggulan suatu etnis, budaya dan agama sekalipun sebagai sumber perpecahan, petuah-petuah, pesan-pesan bijak dari adat dan budaya kita, serta pesan-pesan kegamaan kita adalah syarat makna akan rasa kemanusiaan

“bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
Untukmu Bangsaku yang elok seperti pelangi karena perbedaan warna yang membentuknya….



PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Suatu Malam, Kunjungan ‘Nenek’ ke Dipo 16A


Diceritakan oleh Arip Musthopa, Ketum PB HMI 2008-2010

Senin 5 Oktober 2009, selesai rapat harian PB HMI kira-kira pukul 24.00, aku terlelap di atas kursi “kebesaran” Ketum PB HMI di ruang rapat Dipo 16A. Antara lelah dan kantuk dan antara mimpi dan sadar. Titik kulminasi dari hari yang melelahkan pasca mengurusi pemberangkatan relawan ke Sumbar. Menyusul gempa 7,6 skala richter yang kini telah menewaskan sekitar seribu orang dan menimbulkan kerugian ratusan miliar rupiah. Seluruh negeri berduka, begitupun jiwaku yang nelongso mendengar impact dari gempa tersebut.

Belakangan aku tahu dari seorang kolega di Singapura bahwa Straits Times Singapore menulis bahwa SBY unlucky dan kemudian membuat kepanjangan SBY menjadi Selalu Bencana Yeh… Tapi aku yakin SBY itu lucky karena gak mungkin bila unlucky bisa menjadi jenderal, memiliki isteri anak jenderal, keluarga yang harmonis, menjadi menteri, dan kemudian presiden untuk dua periode. Nampaknya agak gak nyambung secara rasional kalau mau mengkaitkan bencana alam dengan SBY. Kalaupun iya, apakah dosanya demikian besar sehingga membawa unlucky dan rakyat yang dipimpinnya tidak berdosa? Jangan-jangan unlucky itu datangnya dari rakyatnya SBY yang terlalu banyak dosa sehingga membawa unlucky? Duh kasiah deh SBY kalau gitu. Wallau a’lam.

Kembali ke Senin 12 Oktober 2009 malam, diantara sadar dan tidak itu, tiba-tiba menjelma dihadapanku sesosok nenek tua dihadapanku. Nenek tua, pasti keriput, yang masih meninggalkan jejak kecantikannya itu kira-kira berumur 63 tahun. Aku sempat kaget namun senyumnya yang mengembang mengawali dialog kami menyingkirkan ketakutanku seketika. “Cung”, katanya dengan suara bergetar dan penuh emosi. Belum sempat aku menjawab, dia berkata lagi, “Cung”. “Iya Nek”, jawabku penuh keheranan dan dengan nada terbata-bata.

“Kamu capek Cung?”, katanya. “Sabar ya Cung, nenek tahu kamu lelah. Lebih baik kamu tidur dulu daripada kamu langsung pulang, menyetir mobil sambil ngantuk, nanti kamu nabrak lagi seperti waktu tiga hari sebelum lebaran”. Seketika aku makin heran, kok nenek ini tahu ya…”Kok nenek tahu, nenek ini siapa?” tanyaku untuk menghilangkan keherananku dan membuang keraguan bahwa dialog ini sia-sia. “Tak usah kamu tahu Cung, tapi nenek tahu semua yang kamu lakukan dan juga organisasimu. Bahkan pengurusmu dan juga alumni organisasimu Cung. Terkadang nenek kasihan melihat kamu, makanya nenek datangi kamu. Nenek ingin menghibur kamu Cung”. “Hiburan? Memang hiburan apa yang bisa diberikan nenek ini?”, pikirku ketus. Ada-ada saja, ngomong aja susah!

“Jangan meremehkan nenek Cung, meski tidak bisa menghibur, nenek kan bisa kamu jadikan tempat curhat (senyumnya mengembang), InsyaAllah nenek akan doakan dengan tulus dan mudah-mudahan doa nenek dikabulkan Allah”, seketika aku lemas. Nenek yang dihadapanku ternyata bukan sembarang nenek, dia tahu bukan hanya kejadian di masa lalu namun juga apa yang ada dalam hati dan pikiranku. Belum sempat aku bicara, nenek kembali berkata,”Cung, menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Namun Tuhan akan menolong kamu kalau kamu luruskan niatmu, memimpin dengan ikhlas, menjadikannya ibadah dan perjuangan. Tak usah kamu berpikir banyak tentang dirimu sendiri. Kamu pikirkan dan berbuat untuk anggota, keluarga besar, umat dan bangsamu, InsyaAllah nasibmu akan dipikirkan orang lain. Kalau kamu menolong orang banyak, maka orang banyak pula yang akan menolongmu. Tak usah ragu dengan itu Cung!”. “Baik nek”, kataku, pelan dan datar.

“Cung, apa yang kamu lakukan selama satu tahun ini sudah cukup bagus. Tapi Cung, itu belum seberapa dari yang dibutuhkan oleh organisasi dan keluarga besar HMI. Kamu masih harus bekerja keras dan membuat hal-hal yang lebih fundamental menyentuh perbaikan organisasi. Visi besarmu untuk mentransformasi organisasi sehingga sesuai dengan konstruksi peradaban abad XXI sangat bagus dan mulia. Tapi kamu harus berbenturan dengan budaya dan kepentingan kotor yang banyak meliputi organisasimu. Meski begitu, kamu harus yakin Cung, karena anggotamu itu orang yang pintar-pintar dan masih muda sehingga mudah menyesuaikan diri”.

“Cung, kamu harus bebaskan juga Diponegoro 16A ini dari kepemilikan pihak lain. Ada aspek historis dan nilai strategis yang sulit dicari duanya dari kantor ini Cung. Kan tidak butuh banyak hanya sekitar Rp5 milyar (he he) agar PB HMI dapat menguasai semua ruang di Dipo 16A. Nenek yakin kamu bisa. Kan alumnimu kaya-kaya dan para pejabat lagi Cung (Nenek ekspresikan dengan senyum merekah dan penuh optimisme)”. “Wah mereka bisa kualat kalau tidak membantu kamu Cung!”. “Nenek tahu banyak diantara mereka datang dan menjadi fungsionaris di PB HMI dengan bermodalkan semangat dan kebaikan dari para seniornya”. “Nenek tahu banyak yang dulunya hidup seadanya kini telah menjadi orang penting dan terkenal. Tidak sedikit dari mereka memiliki kekayaan yang nilainya jauh lebih besar dari keseluruhan aset HMI”. “Kamu minta tolong saja sama mereka Cung, tak perlu nenek sebutkan siapa saja mereka kan?” kata nenek setengah bertanya.

“Tapi mereka kan memiliki keluarga yang harus dihidupi, gaya hidup yang mahal, dan energi mereka terkuras ke pekerjaan dan karier mereka sehingga jangankan terpikirkan untuk membangun Dipo 16A, untuk membalas SMS saya atau memberikan saya waktu ketemu saja susah Nek. Itulah susahnya meminta tolong mereka Nek,” timpalku dengan nada pesimis dan memelas. “he he Itulah yang juga kerap nenek sedihkan, kok mereka lupa bahwa mereka bisa kariernya cemerlang dan kaya karena ilmu, pengalaman, dan koneksi HMI”. “Jangan-jangan kini mereka datang saja enggan ke kantor ini kecuali kalian undang dengan setengah memaksa?!”. “Apa nenek perlu doakan mereka yang mengacuhkan kamu dan HMI agar ‘tersungkur’ sehingga menyadari pentingnya menjaga mata air HMI dan terus membesarkannya?”, tanya nenek. “HMI kan aset umat Islam dan bangsa Indonesia”, tambah nenek, kurasakan sedikit nada kesal dalam kata-katanya. Segera ku menjawab, “jangan nek. Jangan! Biarlah mereka begitu, Allah maha adil, toh HMI tidak perlu belas kasihan dari orang yang tidak peduli itu. Tidak berkah nek,” tegasku.

“Cucung memang menginginkan sekretariat PB HMI yang modern, berwibawa di Dipo 16A ini. Sewibawa sejarah HMI itu sendiri. Dengan sekretariat yang lengkap, bersih, dan indah insyaAllah kinerja dan cara berpikir fungsionaris PB HMI bisa lebih jernih, giat, produktif, dan konstruktif. Sekarang, nenek tahu sendiri, kami berdesak-desakan. Yang gak enak kalau ada tamu orang asing ketika kami kenalkan bahwa HMI telah berumur hampir 63 tahun, memiliki alumni-alumni yang menjadi Wapres, Ketua DPR, sejumlah pengusaha, menteri-menteri, memiliki jumlah anggota yang besar, dan lain-lain, tapi kok sekretariatnya sesederhana ini….dengan fasilitas yang juga sederhana”. “Untung ada wifi jadi agak modern (sedikit) nek he he” kataku. Kulihat nenek juga sedikit tertawa.

“Cung…Cung. Ya udahlah kamu jangan pernah menyerah. Tetap semangat dan terus bekerja. Nenek akan doakan khusus agar sekretariat kamu ini dapat kamu bebaskan dari kepemilikan pihak lain. Kalau waktu kepengurusanmu cukup, mungkin juga kamu bisa mulai membangunnya.” Kata nenek penuh simpati. “Amiin nek, amiin”, balasku.

“Bang! Bang! kenapa bang?”, seorang fungsionaris PB HMI membangunkanku. “tadi abang ngigau-ngigau, abang bilang nenek, nenek siapa bang?”. “mana nenek tadi?”, kataku. “nenek apa bang?” “Yah nenek…”


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Agama dan Peran Sosial Kemanusiaan


Oleh: Trisasbianto Muang
Desember 2008

Melihat sebuah perubahan adalah hal yang sudah tabu terjadi. Tak ada suatu pijakan yang transformatif untuk perubahan tetap didunia ini. Semuanya berbeda dan masing-masing mengikuti arus dengan menempuh jalan yang berbeda pula. Einstein dalam teori realitivitasnya; ‘’tidak ada yang kekal di dunia ini, yang ada hanyalah revolusi’’. Tetapi, di zaman hari ini ada yang tidak mau melakukan perubahan bahkan seseorang memandang perubahan sesuatu yang harus di hindari, semuanya cenderung opurtunis dan individualis. Mereka di sandarkan bahwa perubahan secara refleks akan hadir dengan sendirinya.

Apakah perubahan yang baik adalah hal yang menakutkan?, ataukah mungkin manusia Sudah terkena virus amnesia hingga tak bisa lagi bergerak maju merekonstruksi kubangan zaman yang kian busuk !. sementara peradaban zaman kontemporer sudah tidak punya keseimbangan yang harmonis, kecuali dia melalui proses penyadaran dan jeli memandang bahwa dalam dinamika kehidupannya terjadi kerusakan yang sangat fatal. paling tidak, mereka menjumpai realitas sekelilingnya yang sudah usang dan tidak sesuai ia kehendaki.

Tidak ada salahnya kewajiban manusia agar percaya dan merespon tentang adanya fakta dimana hampir segala aspek kehidupan yang di topang oleh sistem yang sudah membumi pada sektor sosial yang tidak berprikemanusian itu sebaiknya harus dilawan sebagai musuh nyata bersama. belum lagi keprihatinan suatu bangsa yang di belenggu oleh zaman yang tidak menghargai, menghormati serta menafikan hak-hak orang banyak perihal tentang kemanusiaan.

Tatkala itu pula kehadiran ideologi datang silih berganti dan membawa wajah baru dengan doktrin masing-masing. Semuanya punya solusi dan tawaran untuk membuktikan ideologi mana yang paling mampu menjawab keluhan rakyat yang selalu di eksploitasi, ditindas, dan di marginalkan oleh sistem ekonomi politik internasional yang kokoh, licik, dan buas dari peradaban barat . padahal Edward Said mengusik dengan tegas ‘’bahwa pengetahuan barat, langsung atau tidak langsung adalah bentuk wacana kolonialisme’’.

Sebagai fakta historis, bangkit berbagai ideologi dengan segala keunggulan dan kegagalannya, tapi kapitalisme menjadi sistem yang punya power dipanggung dunia. Namun, harus diketahui bahwa kapital atau modal adalah produk yang diakumulasikan dan dikonsentrarikan ketangan swasta. Semua kegiatan ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar dan menghendaki lepas campur tangan negara. konsep ekonomi ini yang melahirkan WTO, kemudian disebut neoliberalisme. Mereka memunculkan wajah bengis dan kejam ’’perdagangan bebas’’ internasional. Tanpa peduli berapa besar kerusakan sosial diakibatkannya. Seperti pencabutan subsidi pendidikan, penghapusan kesejahteraan bersama diganti dengan tanggung jawab perorangan, dan menekankan kaum miskin untuk mencari jalan sendiri untuk kesejahteraan mereka termasuk juga penebangan hutan untuk kepentingan korporasi yang berdampak pada kerusakan ekosistem alam. Mungkin saya tidak mengulas satu- persatu bentuk seramnya.

Membaca peran agama

Entah kenapa Agama sekarang ini cenderung tidak kerja keras membangun masyarakat. Agama hanya menjadi ritual semata tanpa punya narasi dalam teologi pembebasan ummat. Sekilas Menengok sejarah tentang agama misalnya, kisah-kisah para nabi dalam kitab atau teks-teks suci ternyata kehadiran mereka berperan untuk kemashalatan umat serta mengangkat derajat secara kolektif bagi tiap individu-individu. Namun, realitas kita hadapi ternyata agama tidak punya lagi formulasi gerakan untuk pembelaan dan pembebasan terhadap kaum mustad’affin. Agama seolah terdiam merefleksi tatanan sosial yang semakin bobrok serta tidak punya nyali untuk menghentikan sistem yang tidak humanis yang terus mengarah kepada proses dehumanisasi.

Indonesia sebagai fakta dini sebuah negara yang ditelan oleh sistem neolibelaralisme hanya bisa memberikan prestasi yang mengerikan. Dimana rakyat jatuh pada angka kemiskinan yang terus melonjak hingga menjadi sebuah budaya yang tak mampu terselesaikan. Ditambah lagi dengan biaya pendidikandan dan kesehatan semakin mahal. Semetara hak-hak yang paling asasi malah terabaikan dan rakyat makin melarat, sementara penguasa euforia dalam korupsi berjamaah. Akankah realitas ini terus berlarut-larut dan tampil sebagai tontonan yang memalukan dipanggung dunia yang telah dilanda krisis multidimensi meski secercah belum menemukan titik terang.

Dari sini kita bisa menyimpulkan fenomena yang timpang terus menjerat paradigma yang membuat selama ini kita bungkam. Perlukah agama menjawab perilaku najis ini?

Seiring Era globalisasi atau era modern dewasa ini banyak fenomena menarik dalam keberagamaan didunia khususnya bangsa kita. Dimana agama hanya menjadi identitas tersendiri bagi tiap-tiap pemeluk dan mengklaim sikap beragama yang benar bahkan ada yang menutup diri terhadap yang lain. Agama hanya dijadikan sebagai simbol ketaqwaan bagi seseorang dan menjadi tempat pengaduan kepada sang pencipta. Sikap ini ketika menjadi ekstrim dapat berdampak pada munculnya gerakan-gerakan militan yang mengatasnamakan agama.Tidak heran ketika terjadi benturan antar pemeluk agama, hingga proses kedamaian sejati sangat sulit dibangun.

Munculnya berbagai krisis kepercayaan dan sikap pesimis terhadap agama sudah vulgar. Bahkan ada yang mengutuk eksistensi agama dalam sebuah negara dengan memvonis bahwa agama adalah candu ‘’karl marx’’. Ada yang mengatakan umat beragama itu utopis’’sigmund freud’’. Agama yang kita yakini semestinya hadir dimuka bumi untuk membebaskan manusia dari berbagai ketertindasan, justru dianggap hanya membawa kehancuran kepada manusia. Agama juga ditafsirkan sebagai sesuatu yang mandul yang tak memiliki nilai apa-apa.

Disisi lain, kapitalisme sebagai ideologi penyangga sistem dunia juga gagal menciptakan kesejahteraan manusia. Ideologi ini menyeret manusia pada kehancuran yang lebih mengerikan (Pada tahun 1960, sebanyak 20 % warga paling kaya dunia menguasai 70,2 % kekayaan dunia,dan 20% warga paling miskin dunia mengontrol 2,3% kekayaan dunia. Pada tahun 1990, seperlima penduduk paling kaya itu menguasai 86% kemakmuran dunia, sementara seperlima yang paling miskin hanya mengais-ngais 1%. Kini? Angka itu sudah menjadi 88% dan 0,85% (UNDP, 2000 world developmen report 2000 New York). Pola inilah yang membentuk sistem dunia yang melahirkan semangat akumulasi modal yang begitu tinngi. Dititik ini pula manusia didongkrak sifat keserakahan yang dibarengi nafsu kuasa yang mengarah kepada sistem ekonomi bisnis pincang dan membuktikan kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin kuat. Akhirnya, sistem ideologi ini senantisa merusak moral kita dan mengancam eksistensi peradaban dunia hingga merusak mata rantai manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih layak.

MERETAS JALAN PERUBAHAN

Telah diketahui bahwa agama hadir sebagai wujud kebaikan yang sempurna. Agama apapun keyakinannya sudah saatnya tampill mencari solusi perubahan demi melawan kapitalisme neoliberal yang sangat biadab. Agama mestinya bertanggung jawab untuk meretas semangat kritis dalam wadah gerakan nyata. Maka, penting kiranya membangun asas bersama dengan nalar yang lebih peduli akan sosialitas kemanusiaan karena kita tidak boleh larut dari hegemony jebakan suatu sistem yang menuhankan materi.

Pada akhirnya, urgensi pergerakan sosial agama perlu merumuskan kembali makna identitasnya. Dibalik arus kesenjangan ekonomi yang kian liberal maka waktunya agama menemukan moral pembebasan. Nabi muhammad saw pernah berkata ‘’islam hadir untuk menyempurnakan akhlak’’. Hanya ikhtiar yang membuat agama tidak bungkam dan memasrahkan semua pada sistem. Tuhan sangat mengutuk hambanya yang selalu putus asa dan frustasi.

Firaun harus menjadi simbol kaum pendusta yang kisahnya diulang berkali-kali menyindir secara radikal bagaiman penguasa menciptakan sitem yang menindas. Sistem yang dijalankan firaun persis negara yang berdiri diatas kaki kelompok-kelompok kepentingan. Kehadiran musa sebagai utusan Tuhan bukan berarti mencerca perilaku firaun tetapi sistem yang menbuatnya angkuh, serakah, dan durhaka kepada Tuhan.

Demikian, Saatnya implemementasi agama bergerak menuju perubahan totalitas, baik terhadap individu dan kondisi mereka, ataupun terhadap masyarakat, umat atau bangsa. pesan-pesan suci nan damai dalam kitab agama harus teraplikasikan kearah yang transformatif dalam visi pembebasan. seperti yang dikatakan Robert Borrong ‘’hakikat agama adalah pembebasan itu sendiri’’, atau Hassan Hanafi melihat agama datang bukan untuk merubah status quo, dia menafsirkan ’’agama adalah revolusi itu sendiri’’.

Dengan kata lain agama menjadi patron untuk kemashlatan umat dan pelepasan dari dogma-dogma yang sempit. Dalam konteks ini kita senantiasa menaruh harapan agar agama tidak lagi dijual dengan fatwa-fatwa menjijikan. Setidaknya yang mesti dilakukan ulama, pendeta serta tokoh-tokoh agama lain bergegas menafsir kembali bagaimana mengemas dan menyampaikan agama agar mampu diterima dengan baik oleh umatnya dalam meraih kemakmuran bersama. Bukan lagi menjadikan penyabaran agama sebagai status quo yang berpihak kepada penguasa yang korup serta menjadi alas kepentingan pasar kelas borjuis.

Martin Luther mungkin dapat menjadi inspirasi penting bagi agama-agama yang mau menuju jalan-jalan paembebasn. Dimana dia mengkritik secara radikal dalam praktik kotor gereja katolik dimasanya ’’surat bebas dosa’’, dengan langkah itu luther memulai suatu proses yang tak dapat dihentikan dan pengaruhnya masih hidup sampai sekarang. Ataukah tokoh yang pernah berhasil mendamaikan konflik antar agama dan selalu mengajak pengikutnya agar tidak serakah kepada dunia seperti rekayasa yang diwariskan imprealis kafir saat ini. Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa ’’sesungguhnya dunia diciptakan tuhan sangat memenuhi kebutuhan manusia,tapi sungguh tidak memenuhi keserakahan manusia’’. Itulah jiwa sosok seorang agamawan yang sederhana

Bagi ummat islam semangat liberatif dihadirkan kembali dalam nuansa keberagamaan dan menyadari bahwa sesungguhnya agama punya fungsi sosial seperti yang diperankan oleh Rasulullah saw bersama sahabatnya.

Janganlah semua ini didiamkan dan kita semua hanya maenjadi pemberontak hati nurani karena sesungguhnya didalam benak pemilik gagasan senantiasa hidup suatu gambaran jelas yang hendak diberikan terhadap masyarakat untuk lebih arif; sebuah gambaran kehidupan dimasa keemasan islam dibawah pimpinan rasulullah saw dan para sahabatnya semoga menjadi teladan bagi kita semua. Mereka teguh berusaha mencabut akar realitas kehidupan jahiliyah dan berupaya merombak asasnya dari sistem yang sungguh tidak memanusiakan manusia dari segala aspeknya. Merekapun mengantarkanya kearah kedamaian dan kebahagiaan sejati bersama dengan yang lainnya. Wallahu a'lamu bis sawab


(Dibawah gubuk kecil ada 'sekolah agama' yang progresif. Kadernya tak cukup banyak. Namun, semangat kebersamaan selalu hidup demi melawan kebusukan kepada mereka yang telah menggadai agama. ...........Sebuah gubuk kecil (para Kapitalis jijik melihatnya) yang diberi nama; 'CARABACA'. Komunitas yang didirikan oleh keder-kader HmI...... Di sekolah ini aku belajar menulis. ''Makassar 06 desember 2008''}


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Peran HmI memahami kegelisahan intelectual



Oleh: Trisasbianto Muang
Rasulullah bersabda:

(Bila masyarakat sudah membenci kemiskinan, dan
menonjol-nonjolkan kehidupan dunia, serta rakus dalam mengumpulkan
harta, maka mereka akan di timpa empat bencana: zaman yang berat,
pemimpin yang lalim, penegak hukum yang khianat dan musuh yang
mengancam).


     Ketika terdengar gemuruh teriakan rakyat di tiap wilayah
nusantara, sermbari  nurani terpanggil dengan khidmat untuk berkorban.
Dalam keadaan yang berbeda dan berbagai suku, etnis, dan golongan
serentak menggagas kesatuan misi bersama, yakni ’kemerdekaan’. Inilah
konsepsi dasar dalam meraih cita-cita mulia untuk bebas dari penjajahan
kolonial dan imperial. Banyak tokoh para pendiri bangsa yang kisahnya
sangat indah untuk di urai.

         Dalam menyelami bangsa di masanya, mereka tumbuh menjadi
sosok pemuda cerdas, nekad, dan selalu  gelisah melihat penjajahan.
Mereka bahkan paham atas segala penderitaan rakyat dan mengerti apa
yang mesti di kehendakinya, meski penjara, pengasingan atau nyawa yang
melayang hadir sebagai konsekwensinya. Yah, di usianya yang masih muda
kondisi telah menuntun  mereka untuk terpaksa terjun ke dunia politik
demi melawan perbudakan atau penjajahan. Alhasil, mereka kini terkenang
sebagai  tokoh ‘terhormat’, kepribadian dan kesederhanannya menjadikan
Negeri ini sebagai guru bangsa di panggung dunia. Walau, di sisa
hidupnya sebagian mereka harus pergi dalam 'kesepian'.

        Kini adakah sosok progresif yang bisa bangkit sebagai tokoh
penggerak dalam konteks demokrasi indonesia yang memiliki tantangan
berat?. Sekedar menyimak jika warna politik saat ini kembali telah
menetaskan sejarah buruk pasca reformasi akibat buah dari momentum
elite yang bermodalkan nafsu kuasa. Sedihnya lagi, kerap kita temui di
sidang legeslatif terjadi adu fisik sesama dewan. Namun, sedikit kita
harus beralih dari hiruk pikuk kepentingan kelompok. Era kontemporer
yang di buyar oleh kegelapan, mestinya itu di bicarakan secara
subtansial karena persoalan Negeri ini sudah terekam dari beragam
peristiwa kompleks. Nilai keadilan pun telah di remangkan oleh arus
kepentingan para aktor-aktor yang menuhankan materi. 

Di sinilah Kepiawaian globalisasi terus beroperasi lewat topeng modernitas (miminjam istilah Subcomandante Marcos),
yang hanya menyisahkan kemiskinan akibat buah kebijakan yang tak
berimbang. Janji tentang Negara maju dan modern hanya membuat nihil
kesejahteraan, mengingat kedaulatan bangsa pun ‘tergadai’. Maka, jangan
bertanya misalnya, emas di papua atau minyak di blok cepu, nikel di
soroako sul-sel, dan masih banyak eksploitasi lainnya. Betapa malu anak
bangsa menjawabnya, karena itu di kuasai pihak asing.

Keadaan ini mungkin segera memunculkan kesadaran kita untuk
mengomentari segala kemewahan para pejabat publik dan pihak korporasi
yang mengotakatik segala bentuk aturan yang mereka kehendaki untuk
kepentingan kelas tertentu, sementara warga negara sendiri yang butuh
perhatian ternyata masih saja hidup kekurangan. Asimilisi kebijakan
publik terhadap warga Negara terus saja terurai jalan keputusan yang
tidak merata.


Para elite partai pun kini saling tuduh menuduh terkait kasus
korupsi yang berujung di meja hijau. Inilah potret yang kita saksikan
seolah menjadi tontonan buruk yang merusak serta meruntuhkan moralitas
wibawa dan wajah para pemimpin baik, ekskutif, yudikatif, maupun
legeslatif. Komedi politik yang hanya diperankan oleh aktor yang gila
akan popularitas tanpa menjunjung tinggi nilai kearifan dan moral yang
patut di teladani oleh anak bangsanya sendiri. Parahnya, tabiat senang
melukai hati rakyat, ketika sederet kultur penguasa tercermin kekebalan
hukum di atas fakta yang di distorsi oleh kebusukan para penegak
keadilan, padahal sesungguhnya kita tidak buta akan realitas..

Jejak yang sepi tentang organisasi perjuangan
  Pada tanggal 5 Februari 1947 M/14 Rabiul Awal 1366 H sebuah
organisasi mahasiswa bernafaskan islam lahir di Sekolah Tinggi Islam
Yogyakarta, sekarang dikenal dengan Universitas Islam Indonesia (UII). 
Di bawah naungan perkuliahan lima belas (15) tokoh  mahasiswa hari itu
kemudian mencoba merapatkan diri membentuk organisasi mahasiswa. Lafran
Pane tampil sebagai tokoh yang memprakarsai lahirnya Himpunan Mahasiswa
Islam (HmI).

Berbagai aspek turut mematangkan eksistensinya sejak HmI ingin
didirikan. Dinamika keummatan, kebangsaan, dan kemahasiswaan menjadi
basis pilar dalam rangka mengangkat derajat kemanusiaan. HmI dari masa
ke masa sukses menciptakan perjuangan mahasiswa yang progresif/kritis 
serta melahirkan banyak tokoh intelektual dan cendikiawan, sehingga 
sampai sekarang HMI namanya masih terkenang.

HmI dalam perkembangannya  begitu banyak melewati fase  perjuangan
yang sukses memberikan kontribusi besar bagi perjalanan bangsa ini.
Entah, dari corak pemikiran bahkan secara praksis peran aktif kader
eksis terlibat langsung mengawal arus perubahan bangsa yang berlangsung
secara dinamis.


Upaya menempatkan serta mengokohkan peran kita sebagai mahasiswa
dan kader HMI adalah berani secara kolektif agar konsisten melawan
kekuatan
sistem yang menyeret hajat hidup orang banyak yang sungguh
diskriminatif. Kita paham bersama bahwa kapitalisme hadir sebagai
sistem yang punya power dipanggung dunia. Namun, harus diketahui jika
sistem ini menuntut semua produk dikonsentrasikan ke tangan swasta.
Hampir semua kegiatan ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme
pasar dan menghendaki lepas campur tangan negara. konsep ekonomi ini
melahirkan lembaga perdagangan raksasa (WTO), kemudian membawa dunia
baru di sebut neoliberalisme yang memunculkan wajah bengis lewat
’perdagangan bebas’ internasional. Tanpa peduli berapa besar kerusakan
sosial diakibatkannya. Melalui proses hegemony terjadi konspirasi
kebijakan menakutkan, dimana terjadi pencabutan subsidi pada sector
kebutuhan hidup masyarakat;  pendidikan, penghapusan kesejahteraan
bersama diganti dengan tanggung jawab perorangan, dan menekankan kaum
miskin untuk mencari jalan sendiri untuk kesejahteraan hidupnya.


Mungkin diatas adalah sanggahan miris bagi kita melihat berbagai
percaturan gerakan yang terus mengalami degradasi intelectual dan mulai
‘kehilangan arah’ tanpa punya nyali untuk mengutuk sistem yang serakah.
Seperti yang menimpa internal kelembagaan HmI di masa sekarang, konflik
silih berganti melahirkan perpecahan komitmen perjuangan, dan ternyata
hanya menjadikan kader berada pada tahap pengetahuan yang tak lagi
berfikir gemilang.


Masa keemasan dahulu HmI ketika melahirkan banyak tokoh intelectual
maupun cendikiawan apakah kelak hanya  sekedar warta yang tak lagi bisa
di kembalikan menjadi tradisi keluarga besar hijau hitam?.


Saatnya, mahasiswa dan kader Himpunan mahasiswa islam (HmI) segera
bergegas mengambil peran visioner dalam menatap jauh kedepan bangsa
keluar dari belenggu marginalisasi kehidupan yang timpang. Lebih kepada
pendekatan akhlak dalam sisi islam yang mewajibkan pengikutnya agar
senantiasa hidup secara damai serta membebaskan kaum mustda’affin.
Al-Quran sebagai tafsir tunggal, memiliki esensi Rahmatan lil ‘alamin
serta manjadi pedoman hidup untuk semua manusia secara universal.


Demikian, Himpunan Mahasiswa Islam  (HmI) masa yang akan datang
semoga dapat menghidupkan kembali cahaya pengetehuan yang berguna untuk
segala aspek kehidupan manusia, khusunya di Indonesia. Angin segar bagi
tiap-tiap kader HmI sangat di nantikan tampil sebagai sosok penyejuk
bagi ummat, kelak yang akan menggantikan generasi tua. Cak Nur;
pernah berpesan; salah satu karakter mahasiswa sejati ialah, ‘yang tak
terlupakan’.


Wallauhu A'lamu Bissawab


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Jumat, 26 Oktober 2012

Ukiran Penah Pemuda Sidrap dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2012


Oleh        : Mansur Marsuki                
                  Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) Cabang Sidrap



                Tanggal 28 bulan Oktober 2012 bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah
Pemuda, hari yang diyakini sebagai hari yang sangat bersejarah buat para generasi muda sekarang.
karena ada banyak makna yang terkandung dalam peristiwa itu. Dari peristiwa ini
pulalah kemudian diresmikan sebagai hari lahirnya bahasa Indonesia, dan peristiwa
ini pulalah lahirnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah bangsanya.
Maka dalam memperingati peristiwa penting ini sudah sepatutnyalah kita mengingat
dan menghargai jasa-jasa pahlawan kita dalam mencetuskan hari Sumpah Pemuda sebagai suatu semangat nasionalisme kita sebagai pemuda.
Dan semangat itulah yang saat ini diharapkan sebagai suatu spirit pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa yang tentunya yang memegan tombak estapek kepemimpinan Bangsa ini.
Selayaknya kita tahu, di era globlalisasi ini pemuda Indonesia dihadapkan pada
kerasnya arus perputaran informasi dan kemajuan teknologi. Yang mana arus
informasi yang tak terbendung ini dapat menggerus dan atau melunturkan akar
dari kebudayaan suatu bangsa. Maka manakala bangsa Indonesia dihadapkan pada
kenyataan ini, ketakutan yang terbesar adalah pemuda Indonesia itu sendiri lebih
senang dengan sejarah bengsa lain dibanding dengan sejarah bangsanya sendiri.
Sehingga semangat yang dapat ditanamkan melalui sejarah nasional itu tidak lagi
mampan untuk ditanamkan pada pemuda Indonesia.
Ada banyak reaksi yang timbul tiap kali kita di hadapkan pada sesuatu hal yang
dikaitkan dengan sejarah. Ada yang menyangsikan akan nilai-nilai sejarah itu, ada
yang menggugatnya, dan ada yang bersemangat dalam rangka memeringati dan
menghayati maknanya.


Nilai historis yang terkandung dalam sejarah sumpah pemuda adalah bahwasanya
melalui deklarasi sumpah ini secarara sadar pemuda Indonesia pada masa itu telah
menyadari betapa pentingnya nilai persatuan dan kesatuan.
Banyak wacana yang menyatakan atau secara kasar menyalahkan pemuda
Indonesia yang dinilai tidak lagi mampu menghargai nilai-nilai sejarah dan arti
pentingnya sumpah pemuda. Mereka menyalahkan seakan mereka telah benar
dalam memahami arti dan sejarah sumpah pemuda itu sendiri. Sekarang yang jadi
pertanyaan dari ketidak mengertian pemuda Indonesia akan nilai-nilai historis yang
ada di negarnya adalah bagaimana peran sang orang tua atau orang-orang yang
dia anggap memahami nilai-nilai sejarah itu sendiri menanamkan pemahaman tiu
pada generasi mudanya. Sehinggaa harapan-harapan yang mereka sematkan pada
generasi muda bukanlah harapan kosong yang tanpa pengetahuan. Pemuda
Indonesia tidak lagi menjadi bulan-bulanan tuduhan yang dianggap tidak nasionalis,
atau tidak patriotis.
Memang benar pemuda Indonesia saat ini telah termasuki arus informasi yang tak
terbendung dari belahan dunia manapun, hal ini lantas tidak menjadikan pemuda
Indonesia sepenuhnya lupa akan bangsanya. Tetapi justru hal inilah yang mampu
membuka mata mereka akan kurang bersihnya pemerintahan saat ini, sehingga
mereka pantas mendapatkan gelar agen of change daya pikir kritis inilah yang
perlahan mampu membawa bangsa Indonesia menuju era reformasi.
Tidak hanya sebatas itu, banyak pemuda Indonesia yang tidak lupa terhadap hari
sakti ini. Seperti teman-teman yang berada di daratan benua Eropa yang
beramai-ramai memeringati hari sumpah pemuda ini. Jadi melihat fenomena yang
terjadi di Indonesia,dimana ada segolongan pemuda yang tidak mengerti atau tidak
menghayati nilai-nilai hari sumpah pemuda, dan masih banyak pula pemuda
Indonesia yang masih menghargai dan menghayati nilai-nilai yang terkandung
dalam hari dan sejarah sumpah pemuda ini, maka kita dapat melihatnya sebagai
gejala dari proses globalisasi. Dimana globalisasi ini membawa dampak baik dan
buruk sebatas bagaimana cara pemuda Indonesia menangkap dan memanfaatkan
adanya kebebasan dan kemudahan dalam mengakses informasi di era gllobalisasi
ini. Sehingga kesalahan yang dituduhkan kepada pemuda Indonesia yang dianggap
kurang menghargai dan memahami nilai-nilai dari sumpah pemuda bisa kita koreksi
bersama. Dimana peran orang tua sebagai pendidikpun perlu dipertanyakan
tanggung jawabnya, sehingga kesalahan ini tidak selalu dan hanya ditujukan pada
generasi mudanya, melainkan kesalahan bersama yang harus diperbaiki. Dan sudah
seharusnyalah kesenjangan antara kaum muda dan kaum yang lebih tua
dihapuskan. Karena hal-hal kecil seperti inilah yang membawa dampak besar bagi
kelangsungan bangsa Indonesia. kenapa kesenjangan antara kaum muda dan kaum
yang lebih tua ini dapat menimbulkan dampak yang besar bagi kelangsungan
bangsa Indonesia? jawabanya adalah karena kaum muda adalah generasi penerus
bangsa. Jika terdapat kesenjangan diantara kaum yang lebih tua dengan kaum
mudanya, lalu apa yang akan diwariskan pada kaum muda? Sedangkan komunikasi
dapat dipastikan tidak berjalan dengan baik diantara kaum muda dan kaum yang lebih tua itu.


Dalam memeringati hari sumpah pemuda ini, hendaklah segenap lapisan bangsa
Indonesia sadar akan pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam hari sumpah
pemuda. Dimana hari sumpah pemuda telah mampu menghantarakn kesenjangan
berbagai suku di Indonesia, kenapa sumpah pemuda dinodai dengan timbulnya
kesenjangan diantara kaum muda dan kaum yang lebih tua. Jika terdapat
komunikasi yang baik diantara golongan, Indonesia yang bersatu dapat
berkembanng dengan pesat untuk menyamakn kedudukanya didalam liga
internasional, dan Indonesia akan dapat diakui dan disegani oleh negara lain. Tidak
ada lagi yang namanya klaim-klaim atas daya kreatifitas bangsa Indonesia yang
sudah ada sejak dahulu. Jika Indonesia mampu mempertahankan kesatuan dan
persatuan diantaara suku, adat, budaya, dan golongan, maka makmurlah
Indonesia, karena ia pasti akan kuat dalam menghadapi dahsyatnya gelombang dan
arus globalisasi.



PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.
:: Untuk Muaturun MP3 Kegemaran Anda, Klik Kiri Pada Tajuk Lagu. Anda Kemudiannya Akan Dibawa Ke Halaman Untuk Memuaturun MP3 Tersebut ::

Rabu, 05 September 2012

HMI Bukan Syiah


 

 OPINI | 05 September 2012 | 11:07 Dibaca: 111   Komentar: 0   Nihi

Beberapa hari ini, banyak adik-adik aktivis HMI meminta pandangan perihal pernyataan dari Dr Jalaluddin Rakhmat. Tak kurang, Ketua HMI Cabang Jember, Jamal Bakhtier, juga mengirim pesan via SMS meminta saran pendapat, bagaimana menyikapi pernyataan Kang Jalal –panggilan akrab Dr Jalaluddin Rakhmat di www.tempo.co. Ketua Dewan Syura IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ini dalam wawancara yang dimuat Tempo, Senin, 3 September 2012, mengeluarkan pernyataan yang sangat sensitif dalam konteks konflik antar aliran dalam Islam. “Syiah masuk ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan mulai tersebar ke kampus di daerah lain. Aktivis HMI menyebarkan ajaran Syiah secara sistematis, yakni melalui pelatihan kepemimpinan”. Sontak, pernyataan dosen Universitas Pajadjaran Bandung Fakultas Ilmu Komunikasi, Ilmu Tasawwuf Universitas Paramadina dan sejumlah perguruan tinggi ternama di Tanah Air ini, meresahkan beberapa kalangan di HMI. Khawatir pernyataan ini menurunkan minat berHMI mahasiswa-mahasiswa baru, dijadikan komoditi black campaigne, serta nyata-nyata pernyataan ini tak berdasar dan menyesatkan opini publik. Apa alasan, Kang Jalal mengeluarkan pernyataan tersebut? saya yakin banyak aktivis maupun alumni HMI bingung. Kok tiba-tiba HMI yang tak ada hubungannya dengan merebaknya konflik Sunni-Syiah di beberapa tempat di Tanah Air, dikait-kaitnya dengan penyebaran Syiah secara sistematis di berbagai kampus sejak awal masuknya Syiah periode kedua pasca revolusi Iran tahun 1979. Padahal, HMI jelas-jelas bukan Syiah. HMI merupakan organisasi kemahasiswaan yang menggotong visi dan misi keislamaan dan keindonesiaan sekaligus, dulu, kini dan nanti. HMI sebagai organisasi kader yang berasas Islam tak pernah secara ideologis dan administratif menyebut Islam Syiah satu kata pun. Tak ada satupun dokumen organisasi yang menyebut perihal tersebut. Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai landasan berfikir, bersikap dan bertindak HMI secara individu maupun organisasi, sedikitpun tak mencerminkan faham Syiah. Saya kebetulan sampai hari ini seringkali diminta oleh adik-adik HMI sebagai instruktur NDP, baik pada LK-1 (Latihan Kader 1) maupun pada LK-2 (Latihan Kader 2). Jadi, saya faham betul secara tekstual dan kontekstual isi NDP tersebut. Saya pastikan sepasti-pastinya, tak ada satu pun bab di NDP yang menguraikan faham Syiah secara eksplisit maupun implisit. Dalam NDP tersebut, memuat: dasar-dasar kepercayaan, pengertian-pengertian dasar tentang kemanusiaan, kemerdekaan manusia (ikhtiar), dan keharusan universal (takdir), Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, individu dan masyarakat, keadilan sosial dan keadilan ekonomi, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, kesimpulan dan penutup. NDP yang semula merupakan NDI (Nilai Dasar Islam) yang ditulis oleh Cak Nur, adalah filsafat sosial yang menjadi landasan perjuangan HMI dalam melakukan perubahan masyarakat, sesuai dengan tujuan HMI: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Jadi, jelas sekali pernyataan Kang Jalal tak punya dasar sama sekali. Kayak, “orang mengigau”. Sepertinya, Kang Jalal tak punya pengetahuan yang cukup tentang HMI, sehingga mengait-ngaitkan HMI dengan penyebaran Syiah di Tanah Air. Padahal, antara keduanya tak punya hubungan apapun baik secara historis, ideologis maupun praksis sosial. HMI punya watak dasar, sebagai organisasi kemahasiswaan yang independen. HMI secara etis hanya tunduk dan patuh pada kebenaran, dan secara organisatotis tak terikat dan mengikat dengan organisasi manapun. HMI adalah HMI, yang bukan NU, bukan Muhammadiyah, bukan Al-Khairiyah, bukan Al-Irsyad, bukan Persis, bukan Wasiliyah, bukan MMI, FPI, bukan JAT, bukan HTI, bukan IJABI, dan bukan yang lainnya. Bahwasannya kemudian, banyak kader-kader HMI yang pasca organisasi, menjadi aktivis ormas keagamaan tertentu, itu bukti bahwa HMI merupakan organisasi kader yang dibutuhkan oleh umat dan bangsa. Namun, semua menyadari, tak ada satupun yang berhak mengklaim keberislaman HMI. Di akhir tulisan ini, saya mengutip pernyataan saya dalam Dirgahayu HMIku, HMImu, HMI Kita: “HMI kita adalah organisasi ekstrauniversiter yang tampil dengan wajah warna warni, baik faham keislaman maupun dalam faham keindonesian. HMI kita merupakan “tenda besar” yang mengayomi terhadap keanekaragaman aliran dalam Islam maupun dalam Indonesia. HMI organisasi kemahasiswaan yang terbuka pada ragam aliran tersebut. Tak ada bedanya, antara sunni dan syiah, antara kaum liberal dan kaum sosialis. Semua memiliki kedudukan yang sama di hadapan konstitusi dan organisasi. Keterbukaan dan keluwesan ini yang mendorong HMI kita tak terjebak pada pemikiran dan gerakan ekstrim. Para aktivisnya dituntut untuk saling memberi dan menerima perbedaan yang ada. Perbedaan bukan sesuatu yang tabu, melainkan itu sunatullah untuk menguji makhluk dalam menerima kebenaran dan berpegang teguh pada kebenaran tersebut. Sebab, tiap orang pada hakekatnya cendrung pada “kebenaran”. *Moch Eksan, Presidium Majlis Daerah KAHMI (Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) Jember.


PERHATIAN : JIKA TERDAPAT LINK MUATURUN YANG GAGAL BERFUNGSI ATAU TERDAPAT MASALAH UNTUK MUATURUN MP3,KOMEN-KOMEN,SERTA CADANGAN-CADANGAN LAIN SILA NYATAKAN DALAM KOTAK KOMEN YANG TERDAPAT PADA SETIAP POST. KOTAK KOMEN TIDAK DIPAPARKAN PADA LAMAN UTAMA. KERJASAMA ANDA AMATLAH DIHARGAI.

Featured Video

SENARAI TETAMU KEHORMAT MUATURUN MP3 PERCUMA

Followers